
loading…
Menlu Rusia berkunjung ke Iran. Foto/X
5 Misi Menlu Rusia Berkunjung ke Teheran, Mengaktifkan Program Nuklir
1. Mengakhiri Perang di Timur Tengah
Lavrov tiba di ibu kota Iran pada Senin sore dalam kunjungan pertamanya ke Iran sejak Februari 2025. Araghchi mengatakan pembicaraan dengan Lavrov berfokus pada perkembangan regional, termasuk perang AS-Israel terhadap Iran.
Ia juga menyoroti “perluasan berbahaya” yang dilakukan Israel di kawasan tersebut, yang menurutnya menjadi penyebab permusuhan saat ini.
“Ketidakamanan yang terjadi di sekitar Selat Hormuz merupakan akibat langsung dari agresi militer oleh AS dan (Israel) terhadap Iran, dan hal ini terus berlangsung dalam berbagai bentuk,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kebijakan Iran adalah berfokus pada diplomasi, karena masalah-masalah regional “tidak memiliki solusi militer”. “Saya yakin Eropa juga harus membuka mata terhadap sejumlah kebenaran,” ujar Araghchi. “Sama seperti pihak Amerika, negara-negara Eropa juga terjebak dalam kesalahan perhitungan serta penafsiran yang keliru, dan kebijakan mereka yang salah telah memicu berbagai perang dan masalah di seluruh dunia.”
2. Melanjutkan Kerja Sama Nuklir
Sementara itu, Lavrov menyatakan bahwa Rusia berkomitmen pada perjanjian kemitraan strategis berdurasi 20 tahun dengan Iran, yang secara resmi mulai berlaku pada 2 Oktober. Ia menyebutkan bahwa para ahli Rusia akan kembali secara bertahap ke pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, setelah sebelumnya sempat ditarik keluar selama masa perang.
Menteri Luar Negeri Rusia tersebut juga mengaitkan pemulihan aktivitas pelayaran dengan perlindungan bagi Iran dari serangan-serangan baru.
Ia dijadwalkan untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Masoud Pezeshkian pada hari Senin ini.
Moskow menyatakan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk meredakan ketegangan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari.
3. Menyampaikan Pesan Negara Teluk kepada Iran
Pada hari Minggu, Lavrov berada di Bahrain—negara yang sempat menjadi sasaran utama serangan Iran selama perang—untuk berpartisipasi dalam sesi dialog strategis antara Rusia dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

