Jika ada satu brand yang mengukuhkan kredibilitas fashion G-Dragon, mungkin jawabannya adalah Chanel.
Hubungannya dengan rumah mode tersebut dimulai pada pertengahan 2010-an, tetapi kedekatannya dengan mendiang Creative Director Chanel Karl Lagerfeld membuat G-Dragon berbeda dari tamu selebritas lainnya.
Lagerfeld secara pribadi memotretnya untuk tiga sampul Vogue Korea pada 2016, tahun yang sama ketika G-Dragon ditunjuk sebagai global ambassador Asia pertama Chanel.
Kolaborasi tersebut juga tidak biasa karena alasan lain. Chanel saat itu tidak memiliki lini menswear resmi, dan hingga sekarang pun masih demikian.
Namun, G-Dragon tetap berhasil mengadaptasi kode-kode khas Chanel menjadi gayanya sendiri, mulai dari memadukan jaket tweed dengan distressed denim, mengenakan kalung mutiara di atas kaus grafis, hingga menumpuk bros, cincin, dan rantai.
Interpretasi fashion G-Dragon yang tidak konvensional memperluas persepsi mengenai siapa yang bisa mengenakan Chanel dan bagaimana cara mengenakannya.
Insting fashion semacam itu yang memberinya panggung di industri luxury global, yang pada saat itu hanya bisa diakses oleh segelintir artis laki-laki Asia, sekaligus memberinya julukan yang sesuai: “Chanel Boy”.
3. TAK PERNAH IKUTI ATURAN
Beberapa tahun sebelum brand luxury benar-benar merangkul streetwear, G-Dragon sudah memperlakukan fashion seperti sebuah kolase.
Ia mengambil elemen dari luxury, streetwear, vintage, hingga budaya pop, lalu merangkainya sampai hasil akhirnya terasa sangat khas dirinya sendiri.

