Hubungan mereka akhirnya berakhir setelah perempuan itu mengatakan ia sebenarnya tidak menyukai Zhao; ia sekadar menyukai perlakuan baik Zhao kepadanya.
Jiang dapat mengenali pola serupa dalam hubungan semacam itu. “Jika kamu mencari hubungan yang nyaman dan dekat, kamu tidak bisa hanya mendasarkan pilihan pada penampilan,” jelasnya.
Sebagian besar tugasnya adalah mengkalibrasi ekspektasi. Ketika Zhao mengatakan ia menginginkan pasangan dengan profesi guru atau dokter, Jiang mengingatkannya agar tidak berekspektasi istri dengan pekerjaan semacam itu akan mengurus keluarga sepenuhnya.
“(Guru dan dokter itu) waktu kerjanya juga panjang,” ujarnya. “Pekerjaan-pekerjaan itu tidak semudah yang kamu bayangkan.”
Di Distrik Changle, Fujian — wilayah dengan 109 pria untuk tiap 100 perempuan — mak comblang Jiang Xiaoling memiliki klien dengan daftar keinginan yang panjang. Namun, pria itu kesulitan menjelaskan apa yang bisa ia tawarkan.
“Tipe perempuan yang dia incar,” ujarnya, “sudah memiliki semua yang mereka butuhkan.”
Mendorong klien untuk menghadapi ketidaksesuaian tersebut bisa membuat kikuk. Namun, para mak comblang mengatakan, pria perlu memahami bagaimana mereka dipandang oleh perempuan yang ingin mereka pikat.
Menurut salah satu praktisi: “Kadang-kadang yang dibutuhkan hanyalah menyadarkan mereka.”
FORMAT BARU, NAMUN TEKANAN KIAN BESAR
Ketika peluang tidak seimbang, tidak semua orang bisa menemukan pasangan. Namun, berbagai format baru mulai memperluas akses.
Sebagian mak comblang kini mengadakan livestreams dan ruang obrolan daring. Para lajang dapat memperkenalkan diri kepada audiens yang lebih luas, juga langsung menjawab pertanyaan, memungkinkan mereka dilihat oleh jauh lebih banyak calon pasangan ketimbang cara biasa.
Klien yang datang juga semakin muda. Sebagian dari mereka menyadari betapa sulitnya mencari pasangan; sebagian lainnya didorong, atau bahkan didaftarkan, oleh orangtua mereka.
“Ada kesadaran, makin cepat mereka mendatangi kami, makin besar peluang mereka, terutama bagi perempuan,” kata satu mak comblang. “Usia muda dan penampilan menarik adalah modal terbesar mereka.”
Namun, meski pria dapat bertemu perempuan lebih muda melalui layanan perjodohan, perubahan norma sosial justru membuat ketimpangan gender kian jomplang.
Jiang Ping sendiri, meski sudah aktif di industri perjodohan sejak 2010, belum menikah. Ia juga meninggalkan tradisi dengan memilih membesarkan seorang anak seorang diri. “Pernikahan itu pilihan. Tidak semua orang harus menikah,” katanya.
“Sejak memiliki anak di luar pernikahan menjadi sesuatu yang dapat diterima, teman-teman saya berkata kepada saya, ‘Nona Jiang, kamu benar-benar mendahului zaman.'”

Leave a Reply