STOCKHOLM/BRUSSELS/LONDON: Sistem pendingin supermarket di berbagai negara Eropa diduga diretas dalam serangan siber yang meluas pada Senin (2/11), menyebabkan suhu lemari pendingin dan freezer melonjak hingga bahan makanan rusak dan terpaksa dibuang.

Serangan yang berdampak pada puluhan toko dari Swedia hingga Belgia ini mengingatkan pada insiden serupa di Prancis bulan lalu, ketika peretas mengambil alih kendali unit pendingin di ratusan supermarket.

Jaringan supermarket Ahold Delhaize dan Colruyt di Belgia dan Luksemburg turut terdampak, begitu pula jaringan supermarket Swedia ICA dan Coop. Peritel furnitur yang juga terkenal dengan bakso khasnya, IKEA, juga melaporkan sedikitnya satu tokonya terdampak.

“Semuanya rusak,” kata Engla Ingwall, manajer penjualan di sebuah toko waralaba ICA di Stockholm, kepada Reuters saat dikunjungi pada Senin. Ia mengatakan serangan terjadi pada pukul 02.00 (09.00 WIB), tetapi baru diketahui beberapa jam kemudian.

“Terjadi serangan siber dan semua freezer kami mencapai suhu 50 derajat Celsius.”

Juru bicara ICA mengatakan pihaknya mengetahui bahwa “sejumlah kecil toko terdampak insiden semalam yang memengaruhi sistem lemari pendingin dan freezer mereka”.

Insiden terbaru ini terjadi setelah serangan di Prancis bulan lalu, di mana polisi mengatakan peretas mengambil alih kendali unit pendingin di ratusan supermarket sehingga menyebabkan kebakaran dan bahan makanan terbuang. Ahold juga melaporkan insiden keamanan siber kepada polisi bulan lalu.

Meski belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas kedua serangan tersebut, insiden ini meningkatkan kekhawatiran di kalangan otoritas Eropa mengenai ancaman hibrida terhadap infrastruktur di tengah meningkatnya ketegangan keamanan sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Moskow berulang kali membantah terlibat dalam aksi sabotase atau operasi perang hibrida. Reuters belum dapat memastikan siapa yang berada di balik serangan pada Senin atau apakah serangan tersebut berkaitan dengan insiden di Prancis.

“Belum diketahui siapa yang berada di balik serangan ini, dan mungkin tidak akan pernah diketahui,” kata Katrien Eggers, juru bicara Pusat Keamanan Siber Belgia. Ia mengaku khawatir dengan meningkatnya jumlah insiden, yang sebagian dipicu oleh AI.

“Semua sistem TI berpotensi memiliki kerentanan, dan AI kini dapat digunakan untuk mengeksploitasi kelemahan tersebut dengan efektif – terutama oleh pelaku yang memiliki kemampuan canggih,” ujarnya.



Source link