SELEKSI SISTEMATIS

Korea Utara membentuk unit siber pada 1998, tetapi meningkatkan kedudukannya setelah Kim berkuasa. Pada 2013, Kim menyatakan bahwa perang siber, bersama senjata nuklir dan rudal, merupakan “pedang serbaguna” yang penting bagi kemampuan serangan negaranya.

Menurut Kim Heung-kwang, mantan pelatih dalam program tersebut dan dua pembelot yang pernah bekerja di bidang teknologi informasi (TI), seleksi calon peretas dimulai sejak SMP, bahkan ketika anak-anak baru berusia 11 atau 12 tahun. Setiap tahun, pemerintah memilih sekitar 150 hingga 200 anak untuk mempelajari ilmu komputer.

Pada usia 17 tahun, siswa dengan prestasi terbaik dikirim ke universitas-universitas terkemuka Korea Utara dan menjalani seleksi lanjutan sebelum segelintir dari mereka akhirnya bergabung sebagai peretas di unit siber militer.

Salah seorang pembelot menceritakan, selain pelajaran umum seperti matematika tingkat lanjut dan bahasa asing, mereka dilatih dalam berbagai bidang, termasuk protokol mata uang kripto dan rekayasa balik perangkat keras asing.

Mereka yang tidak menjadi peretas dilatih membuat perangkat lunak atau aplikasi bagi perusahaan Barat melalui pekerjaan jarak jauh.

“Ketika siswa terbaik Korea Selatan mungkin memilih kedokteran atau profesi bergengsi lainnya, Korea Utara mengarahkan talenta terbaiknya ke program nuklir dan siber, serta pada dasarnya menjamin masa depan mereka,” kata Lim Jongin, profesor emeritus di sekolah keamanan siber Korea University.

Para peretas juga mendapat keistimewaan lain, seperti kesempatan bepergian ke negara sekutu, termasuk China, tempat mereka dapat mengakses internet dengan lebih bebas.

Menurut Kim, keberhasilan operasi peretasan dapat menghasilkan imbalan hingga 30 persen dari keuntungan pencurian dalam dolar AS bagi unit militer tempat para peretas bertugas. Mereka bahkan bisa mendapat apartemen di ibu kota yang juga dapat ditempati orangtua mereka.

“Ada laporan bahwa personel siber yang berhasil mendapat apartemen di Pyongyang,” kata Lim, seraya menambahkan bahwa luas hunian tersebut bisa mencapai 1.420 kaki persegi atau sekitar 132 meter persegi.

Bahkan, salah seorang pembelot menyampaikan, peretas berprestasi juga berpeluang menjadi anggota partai berkuasa dan menikah dengan anggota keluarga elite yang memiliki status sosial tinggi.

Namun, kelompok ini relatif kecil. Badan Intelijen Nasional Korea Selatan memperkirakan, pada 2024 sekitar 8.400 orang bekerja dalam operasi perang siber Korea Utara.

Media pemerintah Korea Utara tidak secara terbuka merayakan keberhasilan para peretas, tetapi rutin menyoroti siswa berbakat dalam pemrograman.

Pada 2015, Korea Utara meresmikan Jalan Ilmuwan Mirae di ibu kota. Menurut media pemerintah, Kim Jong Un terlibat langsung dalam pembangunannya.

Salah satu pembelot mengatakan bahwa sebutan resmi bagi peretas di Korea Utara adalah “ilmuwan” atau “peneliti”.



Source link