EFEK MUNCUL SATU MINGGU KE DEPAN
Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam, turut mengingatkan bahwa dampak abu vulkanik terhadap kesehatan perlu diperhatikan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
“Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang harus menjadi perhatian masyarakat,” kata Ari, Minggu, dikutip dari Kompas.
Ari menegaskan, abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya dapat masuk atau mengenai tubuh melalui berbagai jalur. “Partikel-partikel yang beterbangan dapat langsung mengenai mata, kulit, dan terhirup ke dalam saluran pernapasan,” ucap dia.
Ketika mengenai mata, abu dapat menyebabkan rasa perih, kemerahan, dan mata berair. Kontak dengan kulit dapat memicu rasa gatal serta iritasi. Sementara jika terhirup, partikelnya berpotensi menyebabkan batuk, rasa tidak nyaman pada tenggorokan, sampai sesak napas.
Namun, gangguan pada saluran pernapasan tidak selalu hanya terjadi ketika seseorang sedang terpapar abu. “Hal yang perlu dipahami adalah dampak terhadap saluran pernapasan tidak selalu berhenti pada keluhan yang muncul saat paparan terjadi,” ucap Ari.
Menurut Ari, partikel abu vulkanik yang terhirup dapat menetap di dalam sistem pernapasan dan kemudian menyebabkan iritasi serta peradangan.
“Gangguan saluran pernapasan bawah dapat muncul kemudian, termasuk dalam satu hingga dua minggu setelah paparan,” kata dia.
Hal tersebut perlu diperhatikan karena erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Masyarakat pun diminta memperhatikan kondisi tubuh setelah mengalami paparan.
“Apabila setelah terpapar abu seseorang mengalami batuk yang semakin berat, demam, sesak napas, nyeri dada, atau kondisi fisiknya memburuk, pemeriksaan medis harus segera dilakukan. Karena bisa saja sudah terjadi infeksi paru,” ucap dia.

