TERJADI DI NEGARA MAJU DAN BERKEMBANG
Negara maju atau berpendapatan tinggi pun tidak otomatis menawarkan pasar kerja yang lebih mudah bagi generasi muda. Sebaliknya, sejumlah kenaikan pengangguran paling besar justru terjadi di wilayah tersebut.
Di Amerika Utara, misalnya, tingkat pengangguran anak muda naik dari 8,3 persen pada 2023 menjadi 9,8 persen pada 2025. Sementara di Eropa Utara, Selatan, dan Barat, angkanya tetap tinggi di kisaran 15 persen. Sebanyak 20 dari 29 negara di wilayah tersebut juga melaporkan melemahnya peluang kerja bagi generasi muda.
Namun, secara global, tingkat pengangguran anak muda tertinggi berada di negara-negara Arab dengan 26,2 persen, disusul Afrika Utara sebesar 22,6 persen. Di kedua subwilayah tersebut, setidaknya satu dari tiga anak muda masuk dalam kategori NEET.
Eropa Barat berada di posisi berikutnya dengan tingkat pengangguran anak muda sebesar 15 persen, kemudian Asia Timur 14,6 persen dan Asia Selatan 14,3 persen. Amerika Latin berada di angka 11,9 persen, sedangkan Amerika Utara 9,8 persen.
Afrika Sub-Sahara mencatat tingkat pengangguran anak muda terendah, yakni 8,4 persen. Namun, angka yang lebih rendah tidak berarti anak muda di kawasan tersebut memiliki pekerjaan yang lebih aman. ILO menyebut negara-negara dengan perekonomian berkembang menghadapi tantangan besar untuk menyediakan pekerjaan layak yang cukup bagi populasi muda yang terus bertambah.
Di wilayah-wilayah tersebut, “banyak anak muda tak mampu untuk tetap menganggur sehingga akhirnya mengambil pekerjaan informal atau pekerjaan dengan kondisi yang tidak menentu,” catat organisasi tersebut.
“Hampir sembilan dari sepuluh pekerja muda berusia 15 hingga 29 tahun di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah bekerja secara informal. Hal itu membatasi akses mereka terhadap pendapatan yang stabil dan perlindungan sosial,” tulis laporan ILO tersebut.
Direktur Jenderal ILO Gilbert F Houngbo menilai, generasi yang tidak berhasil mendapatkan pekerjaan layak akan kesulitan membangun masa depan dengan rasa percaya diri. Ketika anak muda kehilangan akses terhadap pekerjaan berkualitas, negara juga berisiko kehilangan bakat, produktivitas, hingga kohesi sosial.
“Menciptakan pekerjaan yang layak bagi kaum muda bukan hanya keharusan sosial, melainkan juga salah satu investasi paling cerdas yang dapat dilakukan suatu negara,” ujarnya.

