Site icon News Today

Banjir Nepal Ungkap Rapuhnya Jalur Dagang China


KATHMANDU/BEIJING: Lebih dari enam dekade lalu, Raja Nepal Mahendra mendukung pembangunan jalan raya dari Kathmandu ke perbatasan Tibet, meski ada kekhawatiran membuka negaranya kepada China yang komunis.

Jalan itu bukan sekadar infrastruktur, tetapi juga pernyataan sikap: Nepal yang terkurung daratan dan sangat bergantung pada India untuk akses ke dunia luar menginginkan jalur lain ke utara.

Di tengah kekhawatiran jalan raya itu bisa menjadi pintu masuk pengaruh China, Mahendra melontarkan pernyataan terkenalnya bahwa “komunisme tidak datang naik taksi”.

Sejak itu, Nepal berupaya memperluas konektivitas dengan China, antara lain, untuk mengimbangi ketergantungan ekonominya pada India, mitra dagang terbesar sekaligus sumber sekitar 60 persen seluruh barang impornya.

Namun, banjir mematikan telah menghancurkan jalur perdagangan utama Nepal dengan China dan mengungkap kerentanan strategi tersebut, justru ketika perdagangan, investasi, dan kepentingan geopolitik dengan tetangga di utaranya itu semakin besar, kata para pakar kepada CNA.

Pada 26 Agustus, runtuhnya sebagian gletser dan batuan dasar di bawahnya memicu banjir bandang dahsyat di sepanjang sistem Sungai Bhote Koshi-Trishuli di Nepal bagian utara-tengah.

Hingga pekan lalu, banjir itu menewaskan 1.357 orang dan lebih dari 5.300 lainnya masih hilang. Bencana tersebut juga menghancurkan infrastruktur penting di jalur perdagangan yang banyak digunakan untuk mengangkut pakaian, alas kaki, barang elektronik konsumen, dan semakin banyak kendaraan listrik (EV) dari China.

Sedikitnya 55km jalan harus dibangun kembali, sementara lebih dari 100 jembatan di Nepal rusak atau hancur, menurut badan penanggulangan bencana negara itu.

Salah satu infrastruktur penting yang hancur adalah perlintasan perbatasan Rasuwagadhi-Gyirong dengan Tibet, yang menangani hampir 11 persen impor Nepal dari China dan hampir separuh ekspornya yang relatif kecil ke negara tersebut.

“Akibat bencana ini, kami sekarang berada dalam situasi yang tak terbayangkan. Semua truk yang sedang membawa barang dari seberang perbatasan lenyap,” kata Bhagwan Thapa, importir dari Musa Logistics, perusahaan yang berspesialisasi dalam perdagangan lintas batas dengan China.

“Semua barang yang sudah tiba untuk musim perayaan hanyut. Separuh kendaraan pengangkut sudah tidak ada,” katanya kepada CNA.



Source link

Exit mobile version