Ratusan kilometer ke arah barat, para nakes menggunakan aplikasi AI bernama Shishu Maapan. Aplikasi ini memperkirakan berat dan ukuran tubuh bayi baru lahir dari video singkat yang direkam dengan ponsel, menggantikan peralatan besar yang biasanya harus dibawa dari rumah ke rumah.
“Awalnya, kami bertanya-tanya bagaimana berat badan bisa diukur lewat ponsel,” kata Jyotsna Patel, seorang petugas ASHA yang telah bekerja di desa Kachigam, distrik Daman, selama 14 tahun.
Setelah menjalani pelatihan dan praktik, menurutnya para petugas bisa menggunakan aplikasi itu secara rutin dan memantau apakah berat badan bayi bertambah atau berkurang.
Kesamaan dari dua contoh di pedesaan India ini bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada nakes yang menggunakannya.
Di seluruh India, dokter, radiolog, dan nakes dalam sistem kesehatan publik sudah “dibebani begitu banyak tugas”, kata Sagar Sen, Senior Vice-President Qure.ai. Menambah pekerjaan baru justru bisa menggagalkan tujuan penggunaan teknologi tersebut. Perusahaan yang berbasis di Mumbai itu mengembangkan perangkat AI untuk menganalisis citra medis guna mendeteksi penyakit seperti TBC dan kanker paru.
“Tantangannya adalah membangun AI yang sesuai dengan cara kerja mereka saat ini, sehingga teknologi itu bisa mengambil alih sebagian beban kerja, sementara keputusan klinis tetap berada di tangan nakes,” ujarnya.
Menurut para pakar, bagi jutaan warga di berbagai wilayah India, layanan kesehatan pertama sering kali diberikan oleh nakes atau dokter tanpa dukungan langsung dokter spesialis. Karena itu, AI semakin dikembangkan untuk membantu mereka yang sudah berada di garis depan tersebut.
AI DI GARIS DEPAN LAYANAN KESEHATAN PEDESAAN
India memiliki sekitar 1,02 juta petugas ASHA, menjadikannya program nakes masyarakat terbesar di dunia. Setiap petugas biasanya melayani lebih kurang 1.000 orang, dengan program yang menjangkau sekitar 586.000 desa, menurut data pemerintah.
National Health Mission India menyebut petugas ASHA sebagai “tempat pertama yang dituju” untuk kebutuhan kesehatan, terutama bagi perempuan, anak-anak, dan mereka yang kesulitan mengakses layanan kesehatan.
Tugas mereka sudah mencakup kesehatan ibu dan anak, imunisasi, serta skrining TBC. Tugas baru seperti pendataan rumah tangga, pemeliharaan catatan kesehatan dan validasi data semakin menambah beban kerja mereka.

