
loading…
Kekayaan lima taipan Indonesia dan anggota keluarganya tergerus sejak MSCI Inc. pertama kali memperingatkan kemungkinan penurunan status pasar ekuitas Indonesia pada Januari 2026. FOTO/eVnExpress
“Sebagian besar kekayaan mereka ada di atas kertas,” kata dosen keuangan kampus Deakin-Lancaster Indonesia, Layenda Kresna Bramanta seperti dikutip dari The Asia Business Daily, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga: Prabowo Kirim Pesan ke MSCI: Indonesia Tidak Takut Siapapun!
Ia menilai penurunan tersebut mencerminkan sensitivitas nilai saham pengendali perusahaan besar terhadap sentimen pasar dan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi. Prajogo Pangestu, pendiri perusahaan petrokimia Barito Pacific, mencatat kerugian terbesar.
Kekayaannya anjlok lebih dari 60% sejak 27 Januari, meski ia masih menempati posisi orang terkaya kedua di Indonesia dengan kekayaan sekitar USD15 miliar. Pemegang saham pengendali Djarum Group sekaligus pemegang saham besar Bank Central Asia, Budi Hartono, kehilangan lebih dari USD5 miliar atau 31% dari total kekayaannya.
Anggota keluarga Hartono lainnya juga kehilangan sekitar USD5 miliar, sementara taipan batu bara Low Tuck Kwong kehilangan 54% kekayaan hingga tersisa sekitar USD10 miliar. Penurunan kekayaan Low terjadi setelah ia dan putrinya menjual sekitar 30% kepemilikan di Bayan Resources pada bulan ini dengan harga lebih dari 80% di bawah penutupan sehari sebelumnya. Sementara itu, indeks saham utama Indonesia, IHSG, tercatat turun 38% sepanjang tahun ini, performa terburuk dibandingkan lebih dari 90 indeks yang dipantau Bloomberg.

