JAKARTA: Pemerintah memastikan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biodiesel tetap aman hingga akhir 2026 meski ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar energi global. Harga minyak yang masih terkendali dan jalur impor BBM Indonesia yang tidak melalui Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menjaga pasokan dan harga domestik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak dunia sebagai salah satu indikator utama untuk mengukur dampak konflik geopolitik terhadap perekonomian dan ketahanan energi Indonesia.
Saat ini, rata-rata harga pembelian minyak mentah Indonesia masih berada di kisaran US$91 per barel. Angka tersebut masih berada di bawah level US$110 per barel yang menjadi salah satu perhatian pemerintah.
“Kita selalu melihat bahwa kalau harga minyak di atas US$110 per barel itu biasanya ada ceasefire. Jadi bagi Indonesia relatif masih melihat dengan situasi harga minyak yang tidak di atas US$100 per barel,” ujar Airlangga, dikutip detikFinance, Selasa (11/8).
Dengan kondisi harga minyak tersebut, Airlangga menjamin Pertalite dan Biodiesel masih aman hingga akhir tahun.
“Artinya Indonesia sekarang pembelian minyaknya masih rata-rata di angka US$ 91per barel. Itu relatif sampai akhir tahun at least Pertalite dan Biodiesel aman,” tegasnya
PASOKAN BBM TIDAK LEWAT SELAT HORMUZ
Selain harga, pemerintah memastikan pasokan BBM Indonesia relatif terlindungi dari potensi gangguan di Selat Hormuz.
Airlangga menjelaskan impor bensin Indonesia antara lain berasal dari Singapura dan dikirim melalui Selat Malaka. Dengan demikian, pasokan tersebut tidak bergantung pada jalur Selat Hormuz yang tengah menjadi salah satu sumber kekhawatiran pasar energi global.
“Sedangkan dari gasoline itu yang di hilir itu juga kita ambilnya dari Singapura jadi tidak lewat Selat Hormuz, dia lewatnya Selat Malaka. Jadi relatif Indonesia masih bisa memitigasi situasi gejolak,” terangnya.
Pemerintah masih mewaspadai berbagai risiko terhadap perekonomian global pada paruh kedua 2026, termasuk perang di Ukraina, konflik di Timur Tengah, serta ketegangan di sekitar Selat Hormuz.
Struktur pasokan energi Indonesia menjadi salah satu faktor yang dinilai dapat membantu meredam dampak gejolak geopolitik terhadap kebutuhan energi dalam negeri.
Pemerintah juga memastikan pasokan energi untuk pembangkit listrik nasional relatif aman.
Sebagian besar pembangkit listrik Indonesia masih mengandalkan sumber energi domestik, terutama batu bara. Kondisi tersebut membuat sektor kelistrikan tidak terlalu terpapar langsung pada gejolak harga energi internasional.
“Dan yang lain, tentu kalau masalah listrik, itu kita kebanyakan dibiayai oleh indigenous energy, yaitu batu bara. Sehingga juga tidak ada lonjakan harga dari batu bara,” jelas Airlangga.

