Site icon News Today

Ibu 40 tahun kembali kuliah bersama putranya


Misalnya, dia akan memeriksa tugas sekolah adik bungsunya dan sesekali mengantar-jemput adiknya dari tempat lesnya saat asisten rumah tangga tidak ada.

“Bahkan sesimpel mencuci piring dan menjaga kamar saya tetap bersih, itu sudah cukup membantu mengurangi beban mama saya,” kata anaknya dan Sharifah pun tersenyum mendengarnya.

“Saya bersyukur Abbas punya perhatian dan mau berinisiatif untuk mengambil tugas-tugas yang disebutkannya tanpa mengeluh banyak, karena saya juga paham, anak muda juga punya hidup dan kesibukannya sendiri,” terang Sharifah.

Ada juga saat di mana Abbas melihat ibunya kesusahan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang sulit. “Kadang-kadang, mama suka mengeluh soal tugasnya yang amat sulit, sampai bertanya-tanya sendiri kenapa mau mengambil jurusan spesialis,” sebutnya.

Sharifah ingat saat-saat dia dilanda keraguan. “Saya suka bertanya-tanya sendiri, mengapa saya ambil ini? Memangnya perlu banget saya kuliah di usia saya yang seperti ini?”

Terlepas dari itu semua, dia tidak menyerah. Dia tetap mengimbangi waktunya yang padat antara kerja, kuliah, dan merawat anak.

“Selesai kerja dan kelas malam, saya biasanya sudah penat banget. Karena begitu, saya sisihkan waktu mengerjakan tugas di setiap akhir pekan. Saya tidak yakin bisa mengerjakannya di malam hari setelah kerja,” kata Sharifah.



Source link

Exit mobile version