Namun, kisah anak-anak tersebut sering kali disederhanakan atau ditulis ulang agar lebih mudah diterima: mulai dari narasi penelantaran, penyelamatan, hingga pemberian kehidupan yang layak.
Akan tetapi, banyak anak adopsi yang berhasil menemukan catatan yang tidak sesuai, dokumen yang tidak lengkap, narasi yang berulang-ulang, bahkan nama orang tua yang tidak ada.
Tahun lalu, Komisi Rekonsiliasi dan Kebenaran (TRC) Korea Selatan menemukan bahwa program adopsi yang berlangsung puluhan tahun ini ternyata sarat akan penipuan, termasuk pemalsuan catatan dan kasus anak-anak yang salah status sebagai yatim piatu.
Beberapa bulan kemudian, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengeluarkan pernyataan minta maaf secara terbuka kepada anak adopsi beserta keluarganya. Dia mengakui bahwa negara tersebut memiliki andil dalam apa yang dia sebut sebagai “pelanggaran hak asasi manusia yang tidak berkeadilan.”
Melalui postingan Facebook-nya, dia menyatakan bahwa dia merasa “sangat sedih” saat memikirkan “kecemasan, rasa sakit, dan kebingungan” yang dialami banyak dari mereka, serta berjanji memberikan dukungan bagi anak adopsi yang hendak menelusuri asal-usul mereka.
Bagi banyak orang, pencarian itu seharusnya dilakukan sejak dulu. Di berbagai benua, anak-anak adopsi berusaha menemukan kepingan yang hilang, mencari keluarga kandung, dan memahami jati diri yang selama ini tumbuh di atas rasa kehilangan.
Dari Swedia hingga ke AS dan kemudian kembali ke Korea Selatan, Program One “Orphan” Every Hour CNA mengikuti kisah perjalanan mereka yang berusaha menyusun kepingan masa lalu dan menghadapi pihak-pihak yang telah memisahkan mereka dari masa lalu mereka.

