MEDAN: Kasus keracunan ratusan anak di Kabupaten Karo, Sumatra Selatan, diduga terjadi akibat kelalaian dalam proses pengolahan bahan baku ikan dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Mencegah hal serupa terjadi lagi, Badan Gizi Nasional (BGN) mempertimbangkan penggunaan tes kimia di dapur MBG.
Dalam pernyataannya usai mengunjungi para korban keracunan di Rumah Sakit Haji Medan pada Minggu (16/8), Kepala BGN Sudaryono mengatakan investigasi sementara menunjukkan sebagian ikan tidak disimpan di dalam freezer dan dibiarkan pada suhu ruangan selama 12 jam hingga lebih.
“Ada sekitar 300 atau 200 ekor yang tidak masuk ke freezer, kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam,” kata Sudaryono seperti dikutip dari situs BGN.
Sudaryono menyebut persoalan dalam pengolahan makanan itu sebagai kelalaian yang serius. Ia menegaskan penyediaan menu MBG harus dilakukan tanpa kelalaian karena keselamatan penerima manfaat menjadi taruhannya.
“Tidak boleh ada kelalaian, tidak boleh! Zero tolerance, enggak boleh lalai! Dan saya minta kepala dapur atau siapapun yang merasa enggak sanggup kerja, kau keluar saja daripada kemudian membahayakan nasib nyawa seseorang,” kecam Mas Dar.
Keracunan massal ini terjadi pada Kamis pekan lalu (13/8) yang menimpa 353 siswa di lima sekolah di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara.
Para siswa dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami gejala seperti gatal pada mulut dan kulit, mual, muntah, lemas, hingga sesak napas.
Sudaryono memastikan pihak yang terbukti melakukan kelalaian dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan ditindak tegas.
Bagi Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang berstatus aparatur sipil negara (ASN), Sudaryono menyebut sanksi dapat berupa pemberhentian tidak dengan hormat yang diproses melalui Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Ia juga mempertimbangkan untuk melibatkan aparat penegak hukum guna menyelidiki kemungkinan adanya kelalaian yang menyebabkan insiden tersebut.

