Peter Chia, Pejabat Eksekutif Utama (CEO) TLL, menyampaikan bahwa sebagai titik awal, timnya “mengutamakan petani-petaninya”.
Alih-alih mendesak para petani untuk menerapkan metode asing hanya untuk mengendalikan iklim, dia menyampaikan bahwa fokus TLL adalah meningkatkan taraf hidup petani dengan menaikkan kualitas panen dan pendapatan mereka sekaligus mengurangi sarana produksi, sehingga tabungan lebih banyak dan sawah lebih produktif.
“Pengendalian iklim (dan) pengurangan emisi itu hanya bonus saja, dan itu dampak dari apa yang dapat diwujudkan oleh sains.”
BANYAK BERAS, SEDIKIT EMISI
Beras merupakan komoditas pokok dari separuh populasi dunia dan diperkirakan permintaan akan bertambah 30 persen pada tahun 2050. Hal ini menjadikannya semakin penting untuk menemukan cara meningkatkan produksi beras sekaligus menekan jejak karbon yang dihasilkan olehnya.
Dr Ramachandran Srinivasan, senior investigator utama dan kepala proyek, mengatakan: “Bagaimana caranya mengendalikan dampak lingkungan sekaligus mengisi piring jutaan orang? Itu salah satu target kami.”
Tanaman padi dapat tumbuh di lahan yang digenangi air dan itu menjelaskan mengapa petani biasa menggenangi lahan padinya dengan air, antara lain agar gulma tidak merajalela.
Namun, hal ini menciptakan kondisi tanah rendah oksigen, sehingga mikroba dapat mengurai zat organik, kemudian menghasilkan gas metana, lalu menguar saat menanam padi.
Metode AWD mempersingkat durasi kondisi minim oksigen dalam genangan air, sehingga mengurangi produksi metana.
Ini bukan satu-satunya faktor pengurang metana dalam metode budidaya padi rendah karbon TLL.
Sebagai contoh, genetik tanaman padi memiliki peranan. Dr Yin Zhongchao, peneliti utama senior dalam Decarbonising Rice Project, menjelaskan bahwa akarnya memproduksi sekresi organik yang menjadi sumber makanan mikroba dalam air dan mengeluarkan gas metana.
Pada saat yang bersamaan, oksigen dalam sistem akar juga dapat menekan produksi metana. Dengan demikian, pengembangbiakan dan pemilihan varietas padi yang benar dan memiliki lebih banyak oksigen dalam sistem akarnya dapat mengurangi produksi metana.
Dr Srinivasan menyebutkan bahwa varietas padi lokal yang sudah ada, digunakan di seluruh daerah di Laos, Indonesia, dan India dalam uji coba skala besar guna memastikan hasil relevan dengan kondisi pertanian dan praktik setempat.
“Varietas Beras Temasek yang dikembangkan TLL juga dimasukkan ke dalam uji coba di Laos dan Indonesia beserta dua varietas lokal pilihan untuk memungkinkan evaluasi komparatif dalam kondisi lahan yang sama,” imbuhnya.
Selain itu, manajer proyek Dr Goh Phuay Yee menerangkan bahwa penggunaan pupuk racikan khusus dalam jumlah yang tepat dengan mikronutrisi tambahan juga akan membantu meningkatkan hasil padi.
“Sebagai paket yang mencakup keseluruhan, TLL memandang ini sebagai sebuah solusi untuk memberikan pendapatan yang baik bagi petani dan pada saat yang bersamaan juga, memitigasi emisi gas rumah kaca dan perubahan iklim,” kata Dr Goh.

