Atomo juga telah mengirim papan sirkuit untuk diuji di sejumlah pasar, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Timur Tengah. Menurut Parmar, kecepatan respons, kerahasiaan, dan kemampuan beroperasi tanpa gangguan juga sama pentingnya di pasar-pasar tersebut.
Secara global, produk elektronik konsumen mencakup 65,3 persen pasar cip AI edge pada 2025, didorong meningkatnya penggunaan teknologi tersebut pada ponsel pintar, laptop, dan pengeras suara pintar, menurut laporan perusahaan riset pasar Grand View Research.
Pasar India diproyeksikan tumbuh hampir 12 kali lipat, dari US$984,1 juta (Rp17,6 triliun) pada 2026 menjadi US$11,7 miliar (Rp209,2 triliun) pada 2033, menurut laporan itu.
Besarnya peluang itu menjadi salah satu alasan para perancang cip India membidik pasar tersebut, kata para pakar industri.
INDIA SEBAGAI TEMPAT UJI COBA AI EDGE
Sunil Kumar, yang perusahaan rintisannya, BigEndian Semiconductors, tengah mengembangkan prosesor berbasis AI untuk kamera pengawas, mengatakan, cip khusus dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasar.
Kamera di stasiun kereta, kamera industri, atau kendaraan, misalnya, bisa jadi membutuhkan perangkat keras dan perangkat lunak yang berbeda. Menurut Kumar, kondisi ini memberi perusahaan kecil lebih banyak ruang untuk menawarkan solusi khusus ketimbang bersaing dalam hal kemampuan komputasi.
India juga memiliki banyak tenaga ahli desain cip. Sekitar 20 persen insinyur desain semikonduktor dunia berbasis di negara tersebut, menurut CEO Invest India sekaligus mantan kepala Intel India Nivruti Rai.
Kumar mengatakan, skala dan kompleksitas India dapat menjadikannya tempat uji coba teknologi semacam ini. Ia mencontohkan pengelolaan kerumunan di Kumbh Mela, ritual ziarah Hindu yang dihadiri lebih dari 660 juta orang selama 45 hari pada 2025.
“Jika saya mampu beradaptasi di tempat seperti … Kumbh Mela, mengatasi persoalan pengendalian kerumunan yang sama di Finlandia akan jauh lebih mudah,” ujarnya.

