Site icon News Today

Indonesia ingin ikut tentukan harga komoditas, mampukah bursa baru menarik pasar?


Secara sederhana, bursa komoditas adalah pasar terorganisasi yang mempertemukan produsen bahan baku, produsen barang, pedagang, dan lembaga keuangan untuk membeli dan menjual komoditas atau kontrak yang terkait dengannya.

Karena produksi, pengolahan, dan pengiriman komoditas dapat memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan, sebagian besar aktivitas di bursa melibatkan kontrak berjangka, yakni kesepakatan untuk membeli atau menjual komoditas dalam jumlah dan kualitas tertentu pada tanggal mendatang dengan harga yang telah disepakati.

Bagi produsen dan pembeli, kontrak berjangka menjadi cara untuk melindungi diri dari gejolak harga. Pedagang dan investor keuangan lainnya juga memperjualbelikan kontrak tersebut berdasarkan perkiraan mereka mengenai arah harga.

“Semua pelaku pasar ini harus memperhitungkan kemungkinan perubahan pasokan dan permintaan, cuaca, kebijakan pemerintah, serta ekonomi global, bukan hanya dalam beberapa hari ke depan tetapi juga beberapa pekan atau bulan mendatang,” kata peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad.

Semakin banyak produsen, konsumen, dan pedagang yang berkumpul dan bertransaksi di suatu bursa, semakin tinggi likuiditasnya, yakni kemampuan untuk menampung transaksi dalam volume besar dengan lancar tanpa gejolak harga yang tajam.

Seiring waktu, bursa yang sangat likuid dan dipercaya dapat menjadi rujukan industri dalam menentukan nilai suatu komoditas, bahkan untuk transaksi yang sebenarnya tidak dilakukan di bursa tersebut.

London Metal Exchange, misalnya, telah menjadi salah satu acuan utama dunia untuk logam industri seperti aluminium, tembaga, dan nikel, sementara Bursa Malaysia Derivatives menjadi acuan internasional utama industri kelapa sawit.

Sebagai pemasok utama minyak kelapa sawit, produk nikel, dan batu bara termal, Indonesia berpotensi memiliki pengaruh lebih besar terhadap harga komoditas tersebut. Namun, menjadi produsen besar saja tidak cukup.

“Untuk mendapat kepercayaan pasar, sebuah bursa harus membuktikan bahwa harga yang terbentuk kredibel dan didukung proses yang andal, transparan, serta dikelola dengan baik. Bursa juga harus membuktikan bahwa mereka memiliki mekanisme untuk mendeteksi dan menindak manipulasi harga atau penipuan,” tutur Tauhid.

“Perlu waktu puluhan tahun untuk membangun kepercayaan pasar hingga sebuah bursa dapat menjadi acuan harga seperti yang diharapkan Prabowo.”

Para pakar mengatakan, membangun kepercayaan tersebut bisa menjadi tantangan bagi Indonesia ketika pasar keuangannya tengah mendapat sorotan lebih besar.

Kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia diuji tahun ini setelah penyedia indeks global MSCI pada Januari menyoroti kekhawatiran soal transparansi kepemilikan dan perdagangan saham Indonesia.

MSCI membuka kemungkinan menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market jika reformasi yang dilakukan dinilai tidak memadai dalam tinjauan pada November.

Sementara itu, rupiah telah melemah sekitar 7,8 persen terhadap dolar AS dalam 12 bulan terakhir di tengah aksi jual yang lebih luas terhadap aset-aset Indonesia.

“Hal ini dapat menambah ketidakpastian bagi investor internasional, terutama jika kontrak di bursa baru tersebut menggunakan denominasi rupiah,” kata Tauhid.



Source link

Exit mobile version