MENGAPA BANYAK LULUSAN MANAJEMEN MENGANGGUR?
Salah satu pola yang terlihat adalah besarnya jumlah pengangguran dari program studi yang memiliki basis lulusan besar dan cakupan bidang yang luas.
Manajemen, misalnya, mencakup berbagai bidang yang berkaitan dengan pengelolaan organisasi, sumber daya manusia, keuangan, pemasaran, aset, hingga industri.
Program studi manajemen juga tersedia di banyak perguruan tinggi sehingga menghasilkan lulusan dalam jumlah besar. Kondisi tersebut ikut menjelaskan mengapa lulusan manajemen menjadi kelompok terbesar dalam komposisi pengangguran sarjana.
Luasnya pilihan pekerjaan juga tidak otomatis membuat proses memasuki pasar kerja menjadi lebih mudah. Pada posisi pekerjaan tingkat awal, lulusan rumpun bisnis harus bersaing tidak hanya dengan sesama lulusan bidang tersebut, tetapi juga lulusan hukum, ekonomi, komunikasi, dan bidang lainnya
Kondisi serupa terlihat pada lulusan hukum yang menempati posisi kedua. Bidang tersebut memiliki cakupan karier luas, mulai dari lembaga pemerintahan, perusahaan, profesi hukum, dan industri keuangan.
Namun, tidak seluruh lulusan hukum dapat langsung memasuki profesi spesifik seperti advokat atau konsultan hukum sehingga proses transisi menuju pasar kerja memiliki tantangan tersendiri.
Pada bidang pendidikan, cakupannya juga sangat luas, mulai dari pendidikan guru, bahasa, sains, ekonomi, hingga pendidikan vokasi. Kesempatan kerja lulusan bidang tersebut dapat dipengaruhi pola rekrutmen guru, kebutuhan sekolah di masing-masing wilayah, ketersediaan formasi, hingga persyaratan profesi.
Laporan LPEM FEB UI juga mencatat lulusan ilmu komputer atau informatika mencakup sekitar 4,6 persen dari kelompok pengangguran sarjana.
Temuan tersebut menjadi perhatian mengingat teknologi selama ini kerap dianggap sebagai salah satu bidang dengan peluang kerja besar.
LPEM FEB UI menilai kebutuhan industri teknologi berubah dengan cepat. Gelar akademik saja tidak selalu mencukupi tanpa keterampilan praktis, pengalaman kerja, serta kemampuan menggunakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Selain persoalan pengangguran, laporan tersebut mencatat sekitar 8 juta lulusan sarjana di Indonesia bekerja pada pekerjaan yang berada di bawah tingkat pendidikan mereka.
Menurut LPEM FEB UI, kondisi tersebut menunjukkan adanya jarak antara pertumbuhan tenaga kerja berpendidikan tinggi dan penciptaan pekerjaan profesional yang membutuhkan keterampilan tinggi.
Hubungan antara pendidikan tinggi, kompetensi lulusan, dan kebutuhan dunia kerja dinilai masih perlu diperkuat.

