TANTANGAN DI DEPAN
Namun, meningkatkan penjualan kendaraan CNG jauh lebih mudah daripada membangun rantai pasok biogas yang andal, menurut para analis.
Pada 2018, India mulai mendorong penggunaan biogas terkompresi sebagai bahan bakar alternatif kendaraan melalui program nasional. Namun, perkembangannya masih jauh dari target awal.
Para analis memperkirakan, hanya sekitar 130 pabrik biogas yang beroperasi di India, jauh dari target pemerintah sebelumnya sebanyak 5.000 pabrik pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2024.
Hingga Februari 2026, sebanyak 194 pabrik biogas terkompresi lainnya telah mulai beroperasi dan 315 masih dalam tahap pembangunan, menurut data pemerintah.
Di antara produsen mobil di India, hanya Suzuki yang membangun pabrik biogas.
Selain membangun fasilitas produksi, tantangan besar lainnya adalah memastikan pasokan bahan baku yang cukup setiap hari.
Meski melimpah, kotoran ternak, limbah makanan dan sisa tanaman tersebar di ribuan lahan pertanian dan desa. Menurut para analis, India juga belum memiliki sistem pengumpulan dan penetapan harga yang terorganisasi secara nasional.
Thakkar dari Crisil mengatakan, rantai pasok biogas masih sangat terfragmentasi dan belum terorganisasi.
Pabrik biogas membutuhkan pasokan bahan baku yang stabil. Biogas berbahan tanaman bergantung pada hasil panen, sementara kandungan biogas berbeda-beda tergantung jenis limbah yang diolah.
“Tanpa sistem yang baik untuk mengelola pasokan bahan baku, peningkatan skala produksi akan sulit dilakukan. Memperluas jaringan bahan bakar ke seluruh negeri membutuhkan ketersediaan bahan baku yang konsisten,” katanya.
Proyek-proyek yang sudah berjalan menunjukkan besarnya tantangan tersebut. Menurut laporan media lokal Down To Earth pada 6 Juli, sejumlah pabrik biogas komunitas yang didukung pemerintah hanya beroperasi pada 10 hingga 50 persen kapasitas akibat kekurangan bahan baku. Akibatnya, pendapatan dari penjualan gas tidak cukup untuk menutup biaya operasional.
Distribusi juga menambah biaya. Pabrik biogas tidak terhubung dengan stasiun pengisian bahan bakar melalui jaringan pipa sehingga gas harus dimampatkan ke dalam rangkaian tabung dan diangkut dengan truk.
Menurut laporan Down To Earth, semakin jauh lokasi pabrik dari stasiun CNG, semakin besar biaya transportasi yang menggerus margin.
Di sisi lain, penggunaan CNG di India juga menghadapi sejumlah kendala yang dapat menghambat adopsi lebih luas, menurut para analis.
Stasiun CNG masih belum tersebar merata di luar kota-kota besar. Akibatnya, pengemudi harus merencanakan perjalanan berdasarkan ketersediaan bahan bakar dan terkadang mengantre lama.
“Ketika Anda pergi ke kota-kota kecil, mobilitas menjadi terbatas. Kalau mengendarai kendaraan CNG, muncul kekhawatiran: ‘Apakah nanti ada stasiun CNG atau tidak?’ Kekhawatiran seperti itu tidak ada pada kendaraan bensin atau diesel,” kata Rajesh Sharma, tokoh senior industri dan pakar otomotif, kepada CNA.

