
loading…
Singapura sedang bersitegang dengan Indonesia setelah pemerintah Presiden Prabowo Subianto memangkas pasokan gas untuk negara kota tersebut. Foto/Wikipedia
“Pasokan gas ini dilindungi oleh kontrak-kontrak komersial. Kami berharap semua pihak menghormati komitmen mereka, dan pengimpor gas Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak tersebut,” kata PM Wong.
Baca Juga: Perbandingan Kekuatan Militer Indonesia vs Singapura, Siapa Lebih Kuat?
Pekan lalu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) RI mengonfirmasi pemangkasan pasokan gas alam untuk Singapura dengan alasan memprioritaskan kebutuhan jaringan listrik domestik yang tengah meningkat.
Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) juga mengonfirmasi adanya pemangkasan gas alam dari Indonesia sebesar 31 juta kaki kubik standar gas per hari (MMSCFD). Menurut EMA, itu mewakili kurang dari 2% total permintaan gas harian Singapura.
Angka itu memang kecil, namun fakta bahwa 95% pembangkit listrik Singapura bergantung pada gas alam via pipa dari Indonesia. Jika Indonesia menghentikan seluruh pasokan gas, dampaknya bisa menjalar dari pembangkit listrik hingga industri dan biaya hidup negara kota tersebut.
Namun, seberapa besar tekanan yang akan dihadapi Singapura bergantung pada ketersediaan pasokan alternatif, infrastruktur penyimpanan, serta seberapa cepat negara itu mampu mengganti gas Indonesia.
Singapura merupakan salah satu contoh paling menonjol tentang bagaimana negara dengan wilayah kecil dan sumber daya alam terbatas dapat membangun ekonomi berpendapatan tinggi. Meski tidak memiliki cadangan minyak dan gas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri, negara tetangga ini tetap menjadi pusat keuangan, perdagangan, pelayaran, dan industri berteknologi tinggi.
Kunci yang dimainkan Singapura terletak pada kemampuannya mengamankan pasokan dari luar negeri, membangun infrastruktur energi dan air, serta mendiversifikasi sumber impor.
Singapura mengimpor gas melalui jaringan pipa dari negara tetangga dan dalam bentuk gas alam cair (LNG) dari pasar global. Untuk air, negara itu menggabungkan produksi air hasil daur ulang, desalinasi air laut, air hujan, dan impor dari Malaysia.
Karena itu, jika Indonesia benar-benar menghentikan seluruh pasokan gas ke Singapura, dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Namun, langkah tersebut juga tidak otomatis membuat Singapura kehabisan listrik atau lumpuh dalam hitungan hari. Risiko utamanya adalah meningkatnya biaya energi, kebutuhan mencari pasokan pengganti, serta tekanan terhadap industri yang sangat bergantung pada gas.

