Site icon News Today

Karhutla 2026 Berpotensi Ciptakan Lost Generation



loading…

Orang tua membawa anaknya ke puskesmas karena sesak napas diduga akibat karhutla. Foto/Tangkapan layar SindoNews TV

JAKARTA – Asap akibat kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ) 2026 bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan krisis kemanusiaan. Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) mencatat angka yang mengkhawatirkan: total kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) di wilayah terdampak karhutla telah mencapai 311.363 kasus hingga 17 Oktober 2026, dan 70.239 di antaranya menimpa balita.

PFI menegaskan bahwa paparan asap yang berulang setiap tahun berpotensi menciptakan Lost Generation atau “Generasi yang Hilang” akibat terganggunya kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Laporan situasi terbaru bertajuk “Karhutla 2026: From Situation Analysis to Action Plan”yang diterbitkan Yayasan Amanah Daya Nusantara, CPPM SBM ITB, PFI dan Rumah Zakat memperingatkan bahwa tanpa intervensi cepat, 13 juta lebih penduduk di wilayah terdampak berisiko tinggi menjadi pasien ISPA di rumah sakit. Mereka tersebar di berbagai propinsi di wilayah kalimantan, Sumatera, Sulawes, sampai Papua.

Baca Juga: Kemenkes: Lebih 200 Ribu Kasus ISPA Imbas Karhutla, 63 Ribu Diderita Balita

Selain itu, tanpa perlindungan maksimal, anakanak akan terus menanggung beban terberat. Paparan asap pada janin dan anak bukan hanya memicu penyakit pernapasan akut, tetapi juga merusak kualitas hidup jangka panjang, menghambat perkembangan kognitif, dan memicu masalah gizi buruk di kemudian hari.

“Kita sedang mempertaruhkan satu generasi dan tidak bisa membiarkan tragedi ini terus terulang. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk mereview dan memperbaiki kebijakan secara totalitas. Pemerintah harus segera meninjau tata kelola kawasan hutan dan gambut, bersikap transparan mengenai data, mengedepankan pencegahan, meningkatkan kemampuan desa, serta memberikan insentif yang tepat sasaran,” tegas Rizal Algamar, Ketua Badan Pengurus PFI dalam keterangannya, Selasa (19/10/2026).

PFI menegaskan bahwa anak-anak adalah pihak yang paling tidak berdaya dalam krisis kesehatan ini. Mereka menanggung konsekuensi dan dampak dari keputusan pengelolaan lahan dan pembakaran lahan yang tidak pernah mereka lakukan.



–

Exit mobile version