Site icon News Today

Karnaval Maulid Nabi Pekalongan Disebut Mirip Ritual Satanic


MUI: BERLAWANAN DENGAN SEMANGAT MAULID NABI

Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis menilai konsep pertunjukan tersebut tidak sejalan dengan esensi peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW,” kata Kiai Cholil, mengutip MUI Digital di Jakarta, Selasa (15/9).

Menurutnya, peringatan Maulid Nabi semestinya diisi dengan kegiatan yang mendidik, menyejukkan, serta mencerminkan keteladanan dan akhlak Rasulullah.

Kegiatan tersebut dapat berupa pembacaan Alquran, lantunan shalawat, mauidhoh hasanah, penyampaian kisah keteladanan Rasulullah, serta penyediaan makanan sebagai bentuk rasa syukur dan sedekah.

Kiai Cholil mengatakan karnaval pada dasarnya tetap dapat menjadi bagian dari kegiatan masyarakat selama mengandung nilai edukatif dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

“Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi,” tegasnya.

Ia secara khusus mengkritik cara penyembelihan kambing yang ditampilkan dalam pertunjukan. Menurut Kiai Cholil, penyembelihan hewan tidak seharusnya dikemas secara sadis maupun dijadikan tontonan horor.

“Jangan menyimpang menjadi tampilan setan-setan, atau menyembelih hewan dengan cara yang tidak baik, lehernya dipotong hingga terlepas dan seterusnya. Itu bukan ajaran Rasulullah,” ujarnya.



Source link

Exit mobile version