JAKARTA: Kasus bunuh diri yang tercatat di Indonesia meningkat selama tiga tahun berturut-turut, dari 1.332 kasus pada 2023 menjadi 1.403 kasus pada 2024 dan 1.503 kasus pada 2025. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai angka sebenarnya dapat lebih tinggi karena masih ada kasus bunuh diri maupun percobaan bunuh diri yang tidak dilaporkan.
Data kepolisian tersebut dipaparkan Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Ditjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Imran Pambudi dikutip detikHealth dalam agenda Temu Media di Kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu (9/9).
Kesenjangan terlihat ketika angka yang tercatat dibandingkan dengan estimasi Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME). Pada 2023, ketika kepolisian mencatat 1.332 kasus, IHME memperkirakan jumlahnya mencapai 5.236 kasus.
Imran meyakini masih terdapat kasus yang tidak masuk dalam pencatatan, termasuk percobaan bunuh diri yang tidak berujung kematian.
“Dan saya yakin sebetulnya ada kasus-kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan. Nah, ini baru yang tercatat yang sudah terjadi. Belum yang percobaan bunuh diri tapi gak jadi meninggal. Itu juga cukup banyak dan kasus-kasus seperti ini seringkali ditutupi, mereka gak melaporkan,” kata Imran.
USIA 21-30 TAHUN DOMINASI KEINGINAN BUNUH DIRI
Data layanan konseling Kemenkes juga menunjukkan besarnya persoalan kesehatan jiwa pada kelompok usia muda.
Sepanjang 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026, sebanyak 15.979 orang mengakses Healing119.id untuk berbagai kebutuhan.
Dari jumlah tersebut, 7.600 orang melakukan konseling dan 3.036 orang tercatat memiliki keinginan mengakhiri hidup. Selain itu, 759 orang menghubungi layanan untuk meminta informasi, 203 tercatat sebagai spam, sementara 4.381 tidak memberikan respons atau tidak melanjutkan proses konseling.
Data Healing119.id tersebut berbeda dengan statistik kepolisian mengenai kasus bunuh diri karena menggambarkan pengguna layanan yang memiliki keinginan mengakhiri hidup, bukan jumlah kematian akibat bunuh diri.
Dari 3.036 orang yang ingin bunuh diri, kelompok usia 21-30 tahun mendominasi dengan proporsi 54,08 persen. Kelompok usia 11-20 tahun berada di posisi berikutnya sebesar 33,04 persen.
Kelompok usia 31-40 tahun tercatat 11,01 persen, disusul usia 41-50 tahun sebesar 1,62 persen. Sementara kelompok di atas 50 tahun sebesar 0,19 persen dan usia 8-10 tahun 0,06 persen.
Layanan tersebut bahkan telah diakses anak-anak berusia sangat muda, yakni satu anak berusia 8 tahun, satu anak berusia 9 tahun, serta sembilan anak berusia 10 tahun.
Pengakses layanan Healing 119.id disebut lebih banyak perempuan, sekitar 70 persen. Namun, kasus bunuh diri justru lebih banyak terjadi pada laki-laki.
“Laki-laki tidak bercerita. Langsung bertindak,” ungkap Imran.

