
loading…
Kontainer-kontainer disimpan di sebuah terminal kargo di Frankfurt, Jerman, Senin, 23 Februari 2026. FOTO/AP
“Tidak ada alternatif yang baik selain impor dari luar negeri,” kata Kepala Ekonom FWDBONDS Christopher Rupkey, seperti dikutip dari New York Times, Kamis (8/10/2026).
Baca Juga: Hadapi Sanksi AS, Kepala Bank Sentral: Iran Tidak Kesulitan Sediakan Mata Uang Asing
Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan kenaikan defisit pada Agustus terutama dipicu lonjakan impor minyak bumi, emas, serta cip yang digunakan untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI). Nilai impor mencapai rekor USD420,8 miliar, naik 4,3% dibandingkan Juli, sedangkan ekspor hanya meningkat 1,4% menjadi USD315,2 miliar.
Rupkey menilai tingginya biaya tenaga kerja di AS membuat sejumlah barang sulit diproduksi secara kompetitif di dalam negeri. Selain itu, kapasitas manufaktur baru juga tidak dapat dibangun dalam waktu singkat untuk menggantikan pasokan dari luar negeri.
“Terlepas dari kebijakan ekonomi pemerintah yang telah meningkatkan biaya terkait tarif untuk banyak barang impor, Amerika masih sama bergantungnya terhadap barang yang diproduksi di luar negeri,” ujarnya.
Pemerintahan Trump selama ini menjadikan defisit perdagangan sebagai salah satu indikator kelemahan sektor manufaktur AS dan berupaya menekannya melalui pengenaan tarif terhadap berbagai produk impor, mulai dari mainan dan baja hingga drone serta suku cadang kendaraan. Pemerintah juga berencana menerapkan putaran tarif baru yang dapat mencakup lebih dari 40 negara.
Sejak Trump kembali menjabat untuk periode kedua, rata-rata defisit perdagangan bulanan AS mencapai USD74,5 miliar, sedikit di atas rata-rata USD73,8 miliar pada tahun terakhir pemerintahan Presiden Joe Biden. Namun, perubahan kebijakan tarif yang drastis membuat defisit perdagangan berfluktuasi tajam selama periode tersebut.

