Site icon News Today

Kekerasan demi Cuan dan Popularitas


Polisi siber China telah mengambil “tindakan cepat dan terkoordinasi”, kata laporan tersebut, seraya menambahkan bahwa masyarakat didorong untuk “secara sadar menolak konten vulgar dan kekerasan serta segera melaporkan aktivitas ilegal”.

“Para streamer yang memburu perhatian melalui tindakan vulgar dan kekerasan akan menghadapi konsekuensi hukum,” demikian pernyataan Kementerian Keamanan Publik China. Kementerian tersebut juga mengatakan platform media sosial diwajibkan untuk “memperkuat moderasi konten dan menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap akun-akun yang melanggar aturan”.

“Masyarakat didorong untuk secara sadar menolak konten vulgar dan kekerasan serta segera melaporkan aktivitas ilegal guna bersama-sama menjaga ekosistem daring yang sehat,” kata kementerian tersebut.

“TONTONAN” ATAU MEMICU KEKERASAN?

China telah bertahun-tahun menindak kekerasan di dunia maya, mulai dari menerapkan pembatasan bagi pengguna di bawah umur, seperti jam malam untuk penggunaan internet dan gim, hingga melarang gim yang dianggap mengandung “unsur seksual eksplisit, kekerasan, darah, dan perjudian”.

Meski telah ada peringatan dan tindakan dari otoritas ruang siber, siaran langsung PK terbukti sulit diberantas.

Januari lalu, sepasang suami istri dari Provinsi Yunnan di barat daya China ditahan setelah membuat video kekerasan rumah tangga palsu untuk meningkatkan trafik daring.

Satu video viral memperlihatkan seorang perempuan bermarga Li berusaha melarikan diri dari suaminya yang bermarga Cai. Perempuan itu tertangkap dan dikurung di ruangan kecil.

Dalam video lain, Li terlihat berbalut selimut kotor, duduk di lantai sambil menangis dan memohon agar Cai memberinya makanan.

Menurut laporan media China, pasangan tersebut dikenai “penahanan administratif” selama lima hari karena membuat video rekayasa yang “menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat”.

Cai kemudian mengakui ia sengaja membuat video kontroversial tersebut untuk mendapatkan pengikut. Ia juga mengaku iri pada para selebritas internet yang meraup keuntungan besar dari siaran langsung.

Insiden lain pada 2025 melibatkan empat orang dari Provinsi Jiangxi di China bagian tenggara. Mereka menyiarkan aksi-aksi ekstrem seperti menusukkan paku pada berbagai anggota tubuh, mencambuki diri sendiri dengan sabuk, dan menusuk bibir dengan jarum.

Kelompok tersebut dijatuhi hukuman karena menayangkan “siaran langsung vulgar”.

Konten livestream yang mengganggu dan vulgar “sebagian besar merupakan akibat dari persaingan yang semakin ketat dalam industri siaran langsung China”, kata Xu Jian, seorang lektor kepala dari Deakin University.

“Penonton sudah sangat terbiasa dengan format konvensional seperti pertunjukan bakat dan hiburan, sehingga para streamer PK semakin terdorong untuk menghadirkan aksi yang lebih sensasional dan berlebihan guna menarik perhatian,” ujar Xu.

“SANGAT SULIT” DISENSOR SECARA WAKTU NYATA

Menurut para ahli, banyak streamer PK dapat dengan mudah menghindari sensor dan larangan pemerintah karena memiliki “pemahaman kuat” tentang cara kerja sistem moderasi platform.

“Mereka sering mengandalkan eufemisme, aksi tersirat, atau memindahkan interaksi ke saluran privat untuk menghindari sanksi,” kata Guo Shaohua, lektor kepala dari Carleton College, Minnesota. Menurutnya, sebagian besar platform media sosial menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk moderasi – termasuk dengan menyaring kata kunci untuk memantau dan mengatur konten.

Laporan dari pengguna juga berperan penting dalam menandai konten yang dianggap tidak pantas, kata para ahli.

Menurut Xu dari Deakin University, para streamer yang telah dilaporkan kemungkinan besar akan mendapat “pengawasan lebih ketat” dari pihak platform.

Biasanya, peringatan diberikan terlebih dahulu, dan streamer yang dilaporkan diminta segera “memperbaiki” konten mereka.

“Namun, jika perilaku tersebut terus berlanjut, siaran langsung dapat dihentikan dan akun mereka dapat diblokir sementara atau permanen,” tambahnya.

Menurut Guo, sifat livestream yang “berlangsung secara waktu nyata (real time)” membuat penegakan aturan yang efektif dan menyeluruh menjadi “sangat sulit”.

“Para kreator terus menyesuaikan strategi untuk menghindari deteksi,” ujarnya.

Dalam satu kasus yang menjadi sorotan pada 2023, seorang streamer Douyin bermarga Wang dengan nama akun Bro3000 telah beberapa kali dilaporkan karena meminum Red Bull dan minuman keras China berkadar tinggi, baijiu, dalam jumlah besar – biasanya setelah kalah dalam tantangan minum.

Akun Douyin milik Wang lantas diblokir karena melanggar aturan platform. Namun, ia membuat akun baru dan kembali ke platform tersebut, melanjutkan siaran langsung berupa tantangan minum.

Ia juga menutupi label pada botol alkohol untuk menghindari sistem penyensoran platform. Pada akhirnya, ia meninggal dunia setelah meminum empat botol baijiu dan tiga botol Red Bull.

Beberapa pekan setelah kematiannya, streamer China lainnya, Huang Zhongyuan, juga meninggal setelah mengonsumsi 10 botol alkohol dalam satu siaran langsung.

Di balik penindakan resmi, para ahli melihat persoalan lebih mendasar: platform-platform media sosial berada di bawah tekanan untuk mengawasi konten berbahaya yang pada saat yang sama juga menghasilkan keuntungan besar.

Sebagian livestreamer memiliki jutaan pengikut.

Para streamer papan atas dilaporkan dapat meraup hingga 40.000 yuan (sekitar US$5.875) per bulan melalui hadiah virtual dan donasi penonton – menciptakan tekanan besar untuk tampil menonjol di tengah persaingan yang kian ketat.



Source link

Exit mobile version