Bagi pekerja sosial utama Benjamin Yeo, berbagai hambatan tersebut harus dipahami sebagai bagian dari proses pemulihan.
“Kami sering mendampingi (kaum muda tersembunyi) selama bertahun-tahun,” kata Yeo kepada kelompok tersebut. “Tidak apa-apa jika terkadang mereka mundur selangkah, kembali menarik diri untuk sementara.”
Menurutnya, tugas mereka kemudian adalah menemukan cara untuk “membantu diri kami bangkit dan membantu mereka bangkit” agar mereka dapat melanjutkan perjalanan menuju pemulihan.
MELANGKAH SEDIKIT DEMI SEDIKIT
Bagi kaum muda tersembunyi ini, pemulihan jarang ditandai perubahan besar. Setelah bertahun-tahun menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, langkah pertama Danzel adalah mengikuti sesi fisioterapi untuk membangun kembali kekuatan dan keseimbangannya.
Tan mengatakan Danzel, yang genap berusia 20 tahun pada Januari lalu, juga telah menyatakan keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Rencana mereka adalah “memulai dengan satu mata pelajaran terlebih dahulu”, kemudian secara bertahap menambah mata pelajaran lain dan, akhirnya, mengikuti ujian ketika ia siap.
Shaista telah mencapai tahap tersebut melalui Project Starfish, program bagi kaum muda yang putus sekolah dan sedang mempersiapkan diri mengikuti ujian N Levels sebagai peserta mandiri.
Ia juga mulai berolahraga di pusat kebugaran khusus perempuan, dengan harapan dapat membangun kembali bukan hanya tubuhnya, tetapi juga rasa percaya diri yang terkikis akibat bertahun-tahun dirundung.
“Yang ingin saya lakukan (selama) sisa hidup saya hanyalah bisa keluar sendirian tanpa harus ditemani orang lain – naik kereta dan bus sendirian,” tuturnya.
“Tetapi saya belum tahu bagaimana saya dapat mengatasi ketakutan itu.”

