Site icon News Today

Kisah Kopi dalam Islam, Benarkah Rasulullah Pernah Menganjurkannya?



loading…

Salah satu kisah yang menarik berkaitan dengan Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, seorang ulama besar yang dikenal dalam tradisi tasawuf. Dikisahkan, beliau mendapatkan petunjuk mengenai biji kopi melalui mimpi bertemu Rasulullah. Foto ilustrasi/ist

Kopi bukan sekadar minuman yang menemani aktivitas sehari-hari. Dalam sejumlah kisah yang berkembang di kalangan ulama dan kaum sufi, kopi juga dikaitkan dengan tradisi zikir, ibadah malam, serta upaya menjaga diri agar tetap terjaga saat beribadah.

Salah satu kisah yang menarik berkaitan dengan Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, seorang ulama besar yang dikenal dalam tradisi tasawuf . Dikisahkan, beliau mendapatkan petunjuk mengenai biji kopi melalui mimpi bertemu Rasulullah.

Kisah tersebut tercantum dalam kitab Tadzkir an-Nas, halaman 177. Namun, riwayat ini perlu dipahami sebagai kisah yang dinukil dalam literatur tertentu, bukan sebagai hadis sahih yang telah terverifikasi.

Baca juga: Sejarah Kopi dalam Peradaban Islam, Berawal dari Tradisi Kaum Sufi

Kisah Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi tentang Kopi

Dalam kisah yang dinukil tersebut, as-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi diceritakan pernah bertemu Nabi Muhammad dalam keadaan terjaga. Ia kemudian menyampaikan keinginannya untuk mendengar hadis secara langsung tanpa perantara.

Dalam kisah itu, Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam disebut menyampaikan tiga pesan. Pesan pertama berkaitan dengan aroma biji kopi yang disebut dapat menjadi sebab malaikat memohonkan ampun bagi seseorang selama aroma tersebut masih tercium dari mulutnya.

Pesan kedua berkaitan dengan tasbih yang disimpan untuk berzikir. Dalam riwayat tersebut, orang yang menyiapkan tasbih untuk berzikir disebut tetap memperoleh catatan sebagai orang yang banyak berzikir, baik tasbih itu digunakan maupun tidak.

Sementara pesan ketiga berkaitan dengan duduk bersama wali Allah, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Kisah itu menyebutkan keutamaan duduk bersama mereka dalam konteks ibadah dan kedekatan kepada Allah.

Meski demikian, ketiga pesan tersebut tidak dapat langsung dinisbatkan sebagai sabda Rasulullah yang terverifikasi tanpa penelitian sanad dan sumber hadis yang memadai.

Kopi dan Kisah Syekh Abul Hasan asy-Syadzili

Kisah lain menyebutkan Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, seorang tokoh besar dalam tradisi tasawuf, pernah menjalani amalan wirid yang menuntutnya tetap terjaga pada malam hari.

Dikisahkan, ketika menjalani amalan tersebut, beliau memohon petunjuk kepada Allah. Dalam tidurnya, beliau bermimpi didatangi Rasulullah yang membawa biji-bijian yang banyak ditemukan di daerah tempat tinggalnya.

Dalam mimpi tersebut, beliau mendapat petunjuk untuk menjemur biji-bijian itu, menyangrainya hingga matang, kemudian menumbuknya sampai halus. Bubuk tersebut selanjutnya diseduh menggunakan air mendidih untuk diminum pada malam hari agar tidak mudah mengantuk.

Keesokan harinya, Syekh Abul Hasan disebut mengetahui bahwa biji-bijian yang dimaksud adalah biji kopi. Sejak meminum seduhan tersebut, beliau dikisahkan mampu menjaga kesadaran ketika menjalani ibadah malam.

Cerita ini menggambarkan bagaimana kopi dalam tradisi masyarakat Muslim kerap dikaitkan dengan aktivitas ibadah malam dan kehidupan kaum sufi. Meski demikian, kisah pertemuan dalam mimpi tersebut tidak dengan sendirinya menjadi dalil syariat atau bukti bahwa Rasulullah secara khusus menganjurkan kopi.

Baca juga: Kisah Sahabat Nabi: Umur Setahun Lebih Panjang, Mengapa Bisa Masuk Surga Lebih Dahulu?

(wid)



–

Exit mobile version