“Tapi begitu satu situs ditutup, muncul situs lainnya. Kadang situs baru itu sama persis dengan yang lama, hanya alamatnya berbeda,” katanya.
Menurut para pakar, upaya memberantas penyedia judi daring tidak akan banyak membuahkan hasil selama jutaan orang seperti Kibo terus menciptakan permintaan.
“Banyak penjudi online terjebak karena kurang memahami risiko keuangan yang mereka hadapi,” kata ekonom dan analis kebijakan publik dari Universitas Pembangunan Nasional di Jakarta, Achmad Nur Hidayat, kepada CNA.
Achmad mengatakan, pemerintah perlu menggelar kampanye untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang risiko perjudian sekaligus memperkenalkan cara menabung dan berinvestasi yang sah.
Sementara itu, Trubus dari Universitas Trisakti menyampaikan, pemerintah harus mengakui bahwa larangan perjudian selama puluhan tahun justru membuat praktik tersebut beralih ke aktivitas bawah tanah, bukannya menghilang.
“Melegalkan beberapa bentuk perjudian akan membuat praktik ini tidak lagi sembunyi-sembunyi sehingga pemerintah bisa mengaturnya, menerapkan langkah perlindungan, dan mengenakan pajak tinggi atas pendapatan yang kini mengalir ke bisnis dan organisasi ilegal,” tuturnya.
“Tantangan terbesar adalah meyakinkan kelompok agama bahwa melegalkan perjudian jauh lebih baik daripada membiarkannya tetap ilegal.”
Pendekatan lain adalah menangani kecanduan judi seperti bentuk kecanduan lainnya, dengan menyediakan layanan telepon bantuan, kelompok dukungan, program konseling, dan rehabilitasi bagi mereka yang ingin berhenti.
“Perjudian tidak dipandang sebagai masalah kesehatan mental. Orang tidak menganggapnya berdampak pada kondisi psikologis,” kata Made Supriatma dari ISEAS-Yusof Ishak Institute.
Menurutnya, perjudian justru cenderung dipandang sebagai penyakit sosial, sementara penjudi dianggap sebagai orang yang menyimpang secara moral.
“Karena itu, kebijakan yang diambil adalah pelarangan.”
Kibo sepakat bahwa kecanduan judi seharusnya ditangani sebagai masalah kesehatan mental.
“Judi itu seperti menggali lubang untuk diri sendiri. Sekali masuk, kita terjebak dan mustahil keluar tanpa bantuan orang lain,” katanya.
“Andai saja ada seseorang yang bisa diajak bicara, yang memahami kekacauan hidup kami, seseorang yang pernah berada di posisi kami tetapi berhasil keluar.”
Untuk saat ini, Kibo bisa menahan godaan berjudi akibat saldo rekeningnya yang menipis. Namun, menjelang gajian, ia tidak yakin bisa menahan diri.
“Saya benar-benar sudah berusaha mengurangi judi. Tapi kalau saya berhenti sementara teman-teman masih bermain, apalagi melihat ada yang menang besar, saya jadi gelisah,” katanya.
“Hari gajian itu saat yang berbahaya. Saat itulah keinginan untuk berjudi benar-benar memuncak.”

