Site icon News Today

Menkes BGS maju jadi calon Dirjen WHO pengganti Tedros


JAKARTA: Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) masuk dalam bursa calon Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menggantikan Tedros Adhanom Ghebreyesus. Indonesia mengajukan BGS sebagai salah satu kandidat prospektif dalam pemilihan pucuk pimpinan badan kesehatan PBB yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2027.

Berdasarkan laman resmi WHO, dikutip Senin (24/8), BGS tercantum bersama tiga kandidat prospektif lain yang telah diajukan negara masing-masing.

Ketiga nama tersebut adalah Hanan Mohammed Al-Kuwari yang diusulkan Qatar, Hanan Balkhy dari Arab Saudi, serta Hans Henri P. Kluge yang diajukan Belgia.

Namun, daftar tersebut belum final. WHO masih membuka kesempatan bagi negara anggota untuk mengajukan kandidat hingga 24 September 2026.

WHO juga menyebut status dan daftar pencalonan akan diperbarui setelah seluruh kandidat beserta proposal pencalonannya dipublikasikan secara resmi.

Proses seleksi selanjutnya akan melibatkan Executive Board WHO yang dijadwalkan bersidang pada Januari 2027. Dari tahapan tersebut, tiga kandidat akan dinominasikan untuk melaju ke pemilihan berikutnya.

Penentuan Direktur Jenderal WHO kemudian dilakukan dalam sidang World Health Assembly pada Mei 2027 di Jenewa, Swiss.

LATAR BELAKANG NON-MEDIS BGS

Pencalonan BGS turut menjadi perhatian karena latar belakangnya berbeda dari profil yang lazim ditemukan pada pemimpin organisasi kesehatan global.

Budi Gunadi bukan dokter maupun profesional kesehatan masyarakat. Ia memiliki latar belakang pendidikan fisika nuklir dan menghabiskan sebagian besar perjalanan kariernya di sektor perbankan dan korporasi sebelum masuk pemerintahan. 

Ia pernah menjabat Direktur Utama Bank Mandiri dari 2013-2016 sebelum kemudian memimpin PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), perusahaan induk pertambangan milik negara.

BGS kemudian menjadi Wakil Menteri BUMN sebelum ditunjuk menjadi Menteri Kesehatan pada Desember 2020 dan memimpin Kementerian Kesehatan ketika Indonesia menghadapi pandemi COVID-19.

Latar belakang nonmedis tersebut dinilai sebagian pengamat dapat menjadi tantangan dalam pencalonannya. Namun, pengalaman panjang di sektor keuangan juga berpotensi menjadi modal ketika WHO tengah menghadapi tekanan pendanaan.

Kondisi keuangan organisasi tersebut menjadi salah satu tantangan setelah mundurnya Amerika Serikat dari WHO, yang memicu tekanan terhadap pendanaan dan mendorong organisasi melakukan berbagai langkah penghematan.

Di luar pengalamannya di sektor keuangan, BGS juga terlibat dalam diplomasi kesehatan global.

Ia menjadi salah satu tokoh yang berperan dalam pembentukan Pandemic Fund, mekanisme pendanaan global untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi pandemi yang diluncurkan dalam rangkaian Presidensi G20 Indonesia di Bali pada 2022 dan dikelola melalui Bank Dunia.



Source link

Exit mobile version