
loading…
Survei SMRC menempatkan Sudirman Said memperoleh skor kepemimpinan 6,3. Foto/SindoNews
MTI memandang survei ini penting setidaknya karena dua alasan. Pertama, penilaian diberikan oleh kalangan yang kompeten. Responden studi ini bukan publik umum, melainkan 200 opinion leaders yang terdiri atas 166 akademisi dari berbagai bidang ilmu dan 34 jurnalis senior. Mereka dipilih karena mengenal seluruh tokoh yang dinilai, sehingga perbandingan dapat dilakukan secara setara.
Sebanyak 149 di antaranya bersedia namanya dipublikasikan sebagai penilai, sebuah bentuk akuntabilitas yang patut dihargai. MTI juga mencatat bahwa SMRC secara terbuka menyatakan hasil studi ini bersifat deskriptif, bukan inferensial. Kejujuran metodologis semacam ini justru memperkuat kredibilitasnya.
Baca juga: Di Kongres Nasional PMKRI, Sudirman Said Ajak Mahasiswa Bangun Kepemimpinan Intrinsik
Kedua, kriteria penilaiannya relevan dengan tantangan membereskan negara hari ini. Tokoh dinilai berdasarkan sepuluh aspek: kompetensi, empati, integritas, akseptabilitas, sikap pluralis-inklusif, kemampuan memimpin, komitmen terhadap demokrasi, komitmen terhadap kesejahteraan umum, komitmen terhadap profesionalisme TNI dan Polri, serta komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif.
Ukuran-ukuran ini menjawab persoalan nyata bangsa, bukan sekadar popularitas atau elektabilitas. Hasil ini juga menarik karena Sudirman Said tidak sedang memegang jabatan publik maupun memimpin partai politik. Artinya, penilaian para opinion leaders didasarkan pada rekam jejak dan kualitas personal, bukan pada sorotan kekuasaan.
Baca juga: Skandal di Balik Penjara! Sudirman Said Bongkar Napi Korupsi Bisa Kuliah S2
“Sudah waktunya proses seleksi dan promosi sumber kader kepemimpinan ditata ulang. Survei ini merupakan salah satu inovasi agar kepemimpinan politik masa depan tidak berputar-putar pada nama-nama tertentu yang tidak mencerminkan kapasitas terbaik. Bangsa ini punya stok yang sangat kaya akan potensi pemimpin nasional,” ujar Direktur Eksekutif MTI, Ahmad Jilul QF dalam keterangannya, Sabtu (17/10/2016).

