TEKANAN EKONOMI
Di sebagian besar wilayah Thailand, hampir semua partai menjadikan isu tekanan ekonomi sebagai fokus utama kampanye menjelang pemilu yang relatif minim perbedaan ideologis.
Tekanan ekonomi tidak hanya dialami mereka yang kehilangan lahan, toko, dan rumah, tetapi juga para pengungsi di pusat evakuasi.
Di seluruh kawasan Isan — wilayah besar termiskin di Thailand dengan produk domestik bruto per kapita termasuk yang terendah secara nasional — kondisinya nelangsa, kata warga kepada CNA.
Angkatan kerja di kawasan ini sangat bergantung pada sektor pertanian. Sementara itu, rasio utang rumah tangga terhadap pendapatan cukup tinggi, menjadi pendorong utama tekanan ekonomi dan kerentanan keluarga pedesaan.
Analisis terbaru Bank of Thailand menunjukkan lesunya aktivitas ekonomi dan rendahnya kepercayaan dunia usaha di kawasan tersebut. Isan juga menghadapi persoalan struktural seperti populasi yang menua serta derasnya arus keluar tenaga kerja ke wilayah lain yang menawarkan upah lebih tinggi.
“Masalah paling mendesak yang harus ditangani adalah ekonomi dan biaya hidup, karena ini berdampak pada masyarakat di seluruh negeri. Untuk isu-isu lain, pendapat sangat beragam, sehingga sulit menemukan titik temu,” kata Sathaporn Wichairam, dosen ilmu administrasi publik di Universitas Buriram Rajabhat.
Di pasar yang sama yang sempat dikunjungi Anutin dalam kampanye regionalnya, para pedagang mengatakan mereka akan mendukung perdana menteri dan memberinya kesempatan untuk membuktikan diri. Namun dukungan itu bukannya tanpa syarat.
“Kalau harus memilih, saya akan menyimpan suara saya untuk Pak Anutin,” kata Khemjira Poonsub, seorang pedagang sayur.
“Tapi saya ingin mereka menyadari bahwa perekonomian kami memburuk. Tahun ini adalah yang terburuk, sampai-sampai saya tidak ingin bangun untuk bekerja lagi,” ujarnya.

