MENGUSUNG AI YANG LEBIH TERBUKA DAN MUDAH DIAKSES
Meski berasal dari perusahaan yang berbeda, Liang Wenfeng, Tang Jie, dan Yang Zhilin memiliki satu benang merah dalam pandangan mereka mengenai kecerdasan buatan (AI): komitmen terhadap model AI terbuka dan akses teknologi yang lebih luas.
Model AI open-source adalah sistem yang membuka seluruh kode sumber serta informasi yang dibutuhkan untuk melatih ulang model dari awal. Dengan demikian, model tersebut dapat digunakan, dipelajari, dimodifikasi, dan didistribusikan tanpa harus meminta izin kepada pengembangnya.
Menurut Lin William Cong, pendekatan ini hampir menjadi kebalikan dari tren di Amerika Serikat, di mana laboratorium AI terkemuka cenderung menutup akses terhadap model terbaik mereka dan memperoleh pendapatan dengan menjual akses pengguna.
Salah satu alasan di balik strategi China adalah posisinya sebagai penantang, bukan pemimpin lama (incumbent), dalam pengembangan model AI.
“Memberikan model secara gratis merupakan cara tercepat untuk menarik para pengembang di seluruh dunia dan membentuk standar de facto. Strategi ini membuat lapisan teknologi yang selama ini dipasarkan dengan harga premium oleh perusahaan AI Amerika menjadi komoditas, sehingga menekan model bisnis mereka tanpa harus mengalahkan mereka secara langsung,” jelas Dr Cong.
Strategi tersebut juga dinilai selaras dengan kondisi China yang menghadapi pembatasan ekspor cip dari Amerika Serikat, sekaligus memanfaatkan jumlah pengembang AI yang sangat besar di dalam negeri.
“China memiliki komunitas pengembang yang sangat besar, dan model open-weight memungkinkan mereka semua membangun inovasi di atas sistem AI mutakhir, alih-alih membatasi inovasi hanya di segelintir laboratorium,” tutur Dr Cong.
Meski demikian, ia menilai perusahaan-perusahaan AI terkemuka di China sebenarnya lebih konsisten merilis model open-weight daripada benar-benar open-source.
Menurutnya, sebagian besar model AI China memang memungkinkan bobot (weights) model diunduh oleh publik, tetapi data pelatihan maupun metode lengkap pembuatannya tetap tidak dibuka.
Selain itu, peluncuran model sering dilakukan secara bertahap—misalnya antarmuka API dirilis lebih dulu, sementara weights baru tersedia kemudian—yang menunjukkan bahwa pertimbangan bisnis masih memengaruhi sejauh mana keterbukaan tersebut diterapkan.
Sementara itu, peneliti East Asian Institute National University of Singapore (NUS), Kong Tuan Yuen, mengatakan bahwa dengan menyediakan model AI berkinerja tinggi dengan biaya jauh lebih rendah, China berhasil memosisikan diri sebagai pusat utama bagi negara-negara berkembang untuk memperoleh akses terhadap teknologi AI yang terjangkau.
Namun, karena produk inti mereka pada dasarnya tersedia secara gratis, perusahaan-perusahaan rintisan AI China harus menemukan model bisnis yang benar-benar baru jika ingin tetap kompetitif dalam jangka panjang, ujarnya.
Dr Kong juga mengingatkan bahwa model AI terbuka memiliki sisi negatif dari aspek keamanan. Dengan terbukanya komponen inti model, pihak ketiga dapat menghapus atau memodifikasi fitur-fitur pengaman yang semula ditanamkan oleh pengembang.
“Hal ini memudahkan pihak yang berniat jahat menyalahgunakan model tersebut, sekaligus menyulitkan pengaturan tata kelola AI global, termasuk terkait akuntabilitas dan keamanan data,” katanya.
Di tengah perlombaan perusahaan-perusahaan AI di China maupun negara lain untuk mencapai artificial general intelligence (AGI), Dr Cong menilai, pertanyaan yang lebih penting bukanlah siapa yang lebih dulu mencapainya, melainkan apakah teknologi tersebut telah dipastikan aman ketika akhirnya terwujud.
“Kekhawatiran saya adalah persaingan antarlaboratorium maupun antarnegara justru menciptakan insentif yang keliru. Semua pihak terdorong bergerak lebih cepat dan mengabaikan aspek keselamatan, sementara tidak ada yang ingin menjadi pihak yang memperlambat laju perlombaan,” tuturnya.
“Untuk teknologi dengan dampak sebesar ini, kita berkewajiban memastikan semuanya dilakukan dengan benar. Terus terang, demi generasi mendatang, memastikan AI dikembangkan secara aman jauh lebih penting daripada sekadar menjadi yang pertama mencapainya.”

