Site icon News Today

Penolakan bensin E20 di India makin meluas


MENGAPA PENOLAKAN SEMAKIN LUAS?

Waktu penerapan kebijakan diduga menjadi salah satu penyebab meningkatnya penolakan.

Hanya beberapa bulan setelah E20 diwajibkan, para pengendara mulai mengunggah video yang mengaitkan berbagai masalah kendaraan dengan bahan bakar tersebut. Pada saat yang sama, musim hujan pada Juni meningkatkan risiko masuknya air ke dalam tangki penyimpanan bawah tanah di SPBU yang kurang terawat.

Deshpande mengatakan, sejumlah sampel bahan bakar dalam botol yang beredar di media sosial tampak memiliki lapisan cairan di bagian bawah yang jauh lebih banyak dibandingkan kadar etanol 20 persen.

Menurutnya, sampel tersebut kemungkinan telah terkontaminasi air.

“Banyak SPBU belum mengganti tangki penyimpanan logam dengan tangki nonlogam dan masih menggunakan tangki logam yang ditanam di bawah tanah. Etanol merupakan sejenis alkohol yang mudah menyerap air. Jika berada di sekitar logam, kondensasi dapat terjadi dan menarik uap air dari luar masuk ke dalam tangki,” jelasnya.

Sorabjee sependapat.

“Yang sedang terjadi saat ini lebih berkaitan dengan kontaminasi bahan bakar daripada E20 itu sendiri,” katanya.

“Sebagian besar keluhan datang dari India bagian utara. Keluhan tidak banyak berasal dari wilayah barat maupun selatan. Hal itu mengindikasikan adanya persoalan kontaminasi di wilayah utara. Jika E20 memang menjadi penyebabnya, kendaraan di seluruh India seharusnya mengalami kerusakan,” tuturnya.

Para ahli mengatakan, sifat etanol yang mudah menyerap kelembapan membuat standar penyimpanan dan penanganan bahan bakar harus jauh lebih ketat.

Selain itu, etanol juga memiliki sifat seperti deterjen yang dapat meluruhkan endapan kotoran di dalam tangki bahan bakar kendaraan yang jarang dirawat. Kotoran tersebut kemudian dapat menyumbat filter atau injektor bahan bakar.

“Etanol menghukum praktik perawatan yang buruk,” kata Sorabjee.

Ia menambahkan bahwa media sosial turut memperbesar dampak kasus-kasus yang sebenarnya bersifat terisolasi, karena sebagian kreator konten menyajikan spekulasi seolah-olah merupakan bukti teknis.

Meski demikian, E20 memang memiliki kelemahan yang sudah diketahui.

Karena kandungan energi etanol lebih rendah dibandingkan bensin, konsumsi bahan bakar kendaraan menjadi lebih boros.

Para pengendara dan mekanik yang diwawancarai CNA mengaku melihat penurunan efisiensi bahan bakar sekitar 15 hingga 20 persen.

“Kalau sebelumnya mobil saya menempuh sekitar 14 kilometer per liter saat lalu lintas padat, sekarang mungkin turun menjadi sekitar 12 hingga 12,5 kilometer per liter,” kata Dmello.

Sementara itu, pengendara dari Pune mengatakan, konsumsi bahan bakarnya turun hingga sekitar 30 persen setelah beralih ke E20.

“Dulu di jalan tol saya bisa mencapai 24 hingga 25 kilometer per liter. Sekarang turun drastis menjadi sekitar 18 hingga 19 kilometer per liter,” katanya.

Pengujian Autocar India menemukan penurunan efisiensi antara 3,8 persen hingga 12,6 persen, bergantung pada jenis kendaraan dan kalibrasi mesinnya. Sorabjee mengatakan, penurunan tersebut bisa lebih besar pada kendaraan yang lebih tua.

Namun, penelitian IIT Kanpur memperkirakan penurunan efisiensi akibat E20 kurang dari 5 persen.

Para ahli menegaskan bahwa konsumsi bahan bakar juga dipengaruhi oleh kondisi lalu lintas, tekanan ban, perawatan kendaraan, gaya mengemudi, dan usia kendaraan. Karena itu, sulit menyimpulkan bahwa seluruh penurunan efisiensi yang dialami seorang pengendara semata-mata disebabkan oleh kandungan etanol.

Namun, persoalan yang paling banyak dipermasalahkan adalah turunnya efisiensi bahan bakar tidak diikuti penurunan harga bensin di SPBU.

“Konsumen merasa dirugikan, dan pada akhirnya pengendara merasa tidak mendapatkan nilai yang sepadan,” kata Sorabjee.

“Pemerintah seharusnya memberikan potongan harga yang cukup besar untuk bahan bakar E20.”



Source link

Exit mobile version