
loading…
CEO sekaligus Co-Founder Qiscus, Delta Purna Widyangga dalam forum tahunan Conversa 6.0 di Jakarta. FOTO/dok.SindoNews
“Selama ini, AI di layanan pelanggan sebagian besar bekerja di layer interaksi, membantu menjawab lebih cepat. Langkah berikutnya adalah membawanya ke layer operasional, tempat keputusan diambil, karena yang dibutuhkan bisnis hari ini bukan sekadar memberikan jawaban yang lebih cepat, tetapi menyediakan keputusan yang lebih cepat dan lebih tepat,” kata CEO sekaligus Co-Founder Qiscus, Delta Purna Widyangga dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga: Era Asisten AI, Trading Makin Mudah tetapi Bukan Jaminan Untung
Delta menyatakan dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat memberikan perfect experience bagi seluruh pelanggan, bukan hanya pelanggan VIP. Ia menilai AI perlu tidak hanya berperan dalam interaksi, tetapi juga membantu pengambilan keputusan operasional secara lebih tepat.
Peluncuran dua layer AI tersebut berangkat dari tantangan layanan pelanggan yang semakin kompleks. Jumlah kanal komunikasi terus bertambah, setiap tim menggunakan dashboard tersendiri, dan data perusahaan tersebar di berbagai sistem sehingga menciptakan jeda antara sinyal dan keputusan yang oleh Qiscus disebut decision latency.
Menjawab tantangan itu, Qiscus mengusung tema “The Agentic Shift: Orchestrates AI Complexity” atau pergeseran agentic untuk mengorkestrasikan kompleksitas AI. Perusahaan memandang orkestrasi sebagai kunci agar tim, sistem, dan AI dapat bekerja sebagai satu kesatuan dalam layanan pelanggan.

