Site icon News Today

Remake Jepang Extraordinary Attorney Woo Tuai Pro-Kontra


Drama Korea populer Extraordinary Attorney Woo kini hadir dalam versi Jepang berjudul Extraordinary Attorney Minami. Baru tayang satu episode, serial yang dibintangi Mana Ashida ini sudah ramai diperbincangkan, mulai dari perubahan adegan ikonis hingga kritik terhadap penggambaran karakter utama yang berada dalam spektrum autisme.

Tayang perdana pada 19 Oktober 2026 di Kansai TV dan Fuji TV, drama ini mengadaptasi kisah Woo Young-woo, pengacara muda dengan kecerdasan luar biasa yang diperankan Park Eun-bin dalam versi Korea. Kali ini, penonton diajak mengikuti perjalanan Minamida Minami, seorang pengacara pemula yang berusaha membuktikan kemampuannya di tengah prasangka sosial terhadap penyandang autisme.

Meski mempertahankan premis cerita aslinya, versi Jepang tidak sekadar menyalin setiap adegan. Sejumlah elemen khas yang membuat Extraordinary Attorney Woo begitu dicintai penonton diubah agar lebih dekat dengan budaya dan keseharian masyarakat Jepang.

DARI GIMBAP JADI ONIGIRI, PINTU PUTAR DIGANTI ESKALATOR

Salah satu perubahan paling mencolok adalah makanan favorit sang tokoh utama. Jika Woo Young-woo dikenal begitu menyukai gimbap, nasi gulung khas Korea yang dibungkus rumput laut, Minami justru memilih onigiri, nasi kepal yang akrab dengan masyarakat Jepang.

Salam khas Woo bersama Lee Jun-ho yang berbunyi “Woo to the Young to the Woo” juga mendapat sentuhan baru. Dalam adaptasi Jepang, sapaan tersebut berubah menjadi “Minami to the Minami”.

Tak hanya makanan dan salam, salah satu adegan paling berkesan dari versi Korea juga mengalami perubahan. Woo Young-woo kerap terlihat kesulitan melewati pintu putar, sementara Minami menghadapi tantangan serupa ketika hendak menaiki eskalator. Ia sempat berhenti sebelum akhirnya mendapat bantuan dari orang-orang di sekitarnya. 

The Korea Times, Senin (27/10), melaporkan bahwa perubahan tersebut menunjukkan upaya tim produksi menghadirkan cerita yang lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari di Jepang. Namun, lokalisasi juga menjadi tantangan tersendiri: bagaimana mempertahankan makna emosional dari adegan aslinya tanpa membuat adaptasi terasa seperti tiruan.

AKTING MANA ASHIDA DIBANDINGKAN DENGAN PARK EUN-BIN

Di tengah berbagai perubahan tersebut, perhatian penonton justru banyak tertuju pada Mana Ashida. Aktris Jepang yang dikenal sejak menjadi bintang cilik dan mendapat pujian lewat drama Mother itu dipercaya menghidupkan karakter Minami, peran yang sebelumnya begitu lekat dengan Park Eun-bin.

Namun, bahkan sebelum episode pertama tayang, penampilan Ashida sudah mengundang kritik. Setelah cuplikan yang memperlihatkan Minami memperkenalkan diri beredar, sejumlah penonton Korea mempertanyakan interpretasinya terhadap karakter penyandang autisme.

“Dia hanya tampak seperti orang biasa dengan diksi yang jelas, bukan seseorang yang berada dalam spektrum autisme,” tulis seorang netizen seperti dilaporkan Kompas.com, Jumat (23/10).

Komentar lain menyoroti ekspresi dan kontak mata karakter Minami. “Matanya menunjukkan kemudahan bersosialisasi,” ujar seorang penonton, sementara yang lain berkomentar, “Gerakan matanya sama sekali tidak mencerminkan spektrum autisme.”

Sebagian pengkritik menilai, Minami terlalu mudah melakukan kontak mata dibandingkan gambaran karakter yang mereka harapkan. Meski demikian, kontak mata dan cara berkomunikasi penyandang autisme dapat sangat beragam, sehingga satu perilaku saja tidak bisa dijadikan ukuran untuk menilai keseluruhan spektrum autisme.

Tanggapan terhadap akting Ashida sendiri tidak sepenuhnya negatif. Setelah penayangan perdana, sebagian penonton Jepang justru memuji penggunaan tatapan, gestur, dan gaya bicaranya dalam memerankan Minami. Namun, ada pula yang menganggap beberapa bagian penampilannya terasa dibuat-buat atau terlalu terpengaruh oleh karakter Woo versi Korea.

Perbandingan dengan Park Eun-bin memang sulit dihindari. Dalam serial aslinya, Park membangun karakter Woo melalui perpaduan ekspresi, gerak tubuh, dan cara bicara yang khas. Ia juga berhasil memperlihatkan perbedaan antara kecanggungan Woo saat menghadapi situasi asing dan kepercayaan dirinya ketika mengandalkan daya ingat serta kemampuan analisis hukum di ruang sidang.

Tantangan bagi Ashida bukan sekadar menghadirkan karakter yang mirip dengan Woo Young-woo, melainkan memberikan interpretasi tersendiri terhadap Minami. Terlebih, penggambaran karakter autistik membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam daripada sekadar meniru gestur atau kebiasaan tertentu.

VISUAL DRAMA JUGA TAK LUPUT DARI KRITIK

Selain akting pemeran utama, kualitas visual adaptasi Jepang ikut menjadi sorotan. Saat trailer dirilis, sejumlah penonton Jepang membandingkan tampilannya dengan produksi Korea dan menilai beberapa adegan kurang memuaskan.

“Visualnya terlalu norak,” demikian salah satu komentar yang muncul terkait cuplikan drama tersebut.

Meski begitu, episode perdana tetap memperlihatkan upaya adaptasi Jepang mempertahankan pesan penting dari cerita aslinya, terutama tentang diskriminasi dan tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas di dunia kerja.

Dalam episode pembuka, Minami diceritakan kesulitan mendapatkan pekerjaan meski memiliki prestasi akademis cemerlang. Prasangka terhadap kondisi autistiknya menjadi salah satu penghalang sebelum ia akhirnya bergabung dengan sebuah firma hukum dan mulai menangani kasus.

BISAKAH VERSI JEPANG MENYAMAI KESUKSESAN EXTRAORDINARY ATTORNEY WOO?

Ekspektasi tinggi terhadap Extraordinary Attorney Minami tidak lepas dari kesuksesan luar biasa serial aslinya. Ketika tayang pada 2022, Extraordinary Attorney Woo menjadi fenomena di Korea Selatan dengan rating domestik tertinggi mencapai 17,5 persen, sekaligus mencetak rekor sebagai drama dengan rating tertinggi dalam sejarah saluran ENA.

Popularitasnya juga menembus pasar internasional. Drama tersebut sempat memuncaki daftar 10 acara televisi non-Inggris terpopuler secara global di Netflix dan mencatat pencapaian tinggi dalam survei program televisi favorit masyarakat Korea oleh Gallup Korea.

Kesuksesan itu turut menjangkau Jepang, tempat Extraordinary Attorney Woo masuk dalam jajaran drama Korea yang disukai penonton. Popularitas tersebut kemudian membuka jalan bagi produksi adaptasi lokalnya.

Namun, mengadaptasi serial yang sudah begitu melekat di hati penonton tentu bukan perkara mudah. Di satu sisi, versi Jepang memiliki keuntungan karena mengangkat cerita yang telah terbukti sukses. Di sisi lain, setiap perubahan karakter, dialog, hingga adegan ikonis berpotensi memancing perbandingan dengan versi aslinya.

Dengan baru satu episode yang ditayangkan, masih terlalu dini untuk memastikan apakah Extraordinary Attorney Minami mampu mengikuti jejak kesuksesan pendahulunya. Yang jelas, perpaduan antara sentuhan budaya Jepang, ekspektasi terhadap akting Mana Ashida, dan perdebatan mengenai representasi autisme membuat kelanjutan drama ini menarik untuk dinantikan.



Source link

Exit mobile version