PALEMBANG: Kualitas udara Palembang semakin memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 903,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Senin (5/10), tertinggi sepanjang 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dikutip Sumsel Post mencatat konsentrasi partikulat halus tersebut mencapai puncaknya pada pukul 05.00 WIB dan masuk dalam kategori sangat berbahaya bagi kesehatan.
Kondisi udara buruk telah berlangsung selama lebih dari sepekan di ibu kota Sumatera Selatan tersebut.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan dan penyakit jantung.
Sebagai gambaran, konsentrasi PM2.5 di atas 250 µg/m³ sudah masuk kategori berbahaya berdasarkan klasifikasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), sehingga angka 903,6 µg/m³ menunjukkan tingkat pencemaran yang jauh melampaui ambang tersebut.
Kabut asap yang menyelimuti Palembang berasal dari kawasan karhutla di bagian timur dan tenggara Sumatera Selatan.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis mengatakan salah satu wilayah dengan aktivitas karhutla terbesar berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
BMKG mencatat sebanyak 1.726 titik panas atau hotspot di wilayah tersebut. Asap kemudian terbawa angin menuju Palembang sehingga kualitas udara di kota itu tetap berada pada level berbahaya.
HUJAN BELUM JANGKAU SUMBER ASAP
Sejumlah wilayah Sumatera Selatan sebenarnya telah diguyur hujan, antara lain Musi Rawas Utara (Muratara), Lahat, Pagar Alam, Empat Lawang, Muara Enim, dan Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan.
Namun, hujan belum menjangkau OKI yang menjadi salah satu wilayah sumber asap.
Akibatnya, sumber kebakaran belum sepenuhnya teratasi dan asap masih terus terbawa menuju Palembang.
“Hujan yang terjadi belum mencakup pada wilayah sumber asap di wilayah sana. Untuk kawasan gambut yang terbakar, butuh hujan intensitas lebat yang luas dan merata selama beberapa hari untuk benar-benar memadamkan apinya,” jelas Wandayantolis.
Kabut asap juga berdampak pada operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang.
Pada Minggu (4/10), sebanyak 31 penerbangan mengalami penundaan atau pengalihan pendaratan setelah jarak pandang turun di bawah batas minimal penerbangan.
Menurut Wandayantolis, hujan yang lebih merata di Sumatera Selatan diperkirakan baru terjadi pada pertengahan November 2026. Hingga saat itu, potensi karhutla masih akan berlangsung.
BMKG mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker dan kacamata untuk mengurangi paparan kabut asap.

