Badan pengawas makanan di Korea Selatan dan Singapura memperketat pengawasan impor kubis asal China setelah video viral menunjukkan penggunaan formalin pada sayuran tersebut.
Pada Rabu pekan lalu, Kementerian Keamanan Pangan dan Obat-obatan Korsel menyatakan telah menguji delapan batch kubis napa yang diimpor dari China setelah mencuatnya video viral tersebut, tidak ditemukan ada yang mengandung formalin.
Aparat Korsel juga memastikan kepada pihak berwenang di China apakah kubis yang diproduksi di Hebei diimpor ke negara mereka. Hebei adalah provinsi tempat video viral tersebut dibuat.
Pada Selasa (1/9), Badan Pangan Singapura (SFA) juga menyatakan telah memperketat pemeriksaan kubis yang diimpor dari China.
Menanggapi pertanyaan CNA, SFA menegaskan, pihaknya terus memantau situasi dengan saksama serta meningkatkan pengujian sebagai bagian dari program pemantauan keamanan pangan.
Sementara itu, aparat di China memeriksa pengiriman sayur-mayur secara nasional. Sebelumnya, pada 22 Agustus lalu, aparat di Hebei, setelah melakukan pemeriksaan, menemukan adanya penggunaan formalin pada produk kubis selama proses pengiriman.
BERAWAL DARI VIDEO VIRAL
Kasus ini mencuat setelah seorang blogger lingkungan China yang dikenal dengan nama akun Qige mengunggah video di Douyin pertengahan Agustus lalu. Dalam video tersebut, dia menyebut sejumlah pekerja di Tunken, Kabupaten Kangbao, Hebei, mencelupkan kubis ke dalam cairan yang diduga formalin sebelum dimuat untuk dikirim.
Dalam percakapannya di video itu, seorang pekerja mengatakan kepada Qige bahwa kubis bisa bertahan dua hingga tiga hari setelah dicelup cairan yang diduga formalin tersebut.
Para pekerja dalam video mengatakan, muatan itu akan dikirim ke Kota Suqian di Provinsi Jiangsu.
Video itu dengan cepat menjadi viral. Otoritas setempat kemudian mengonfirmasi pada hari yang sama bahwa penyelidikan awal menunjukkan praktik yang terlihat dalam video tersebut memang terjadi, menurut laporan China Daily.
Formalin diklasifikasikan sebagai zat karsinogenik atau penyebab kanker pada manusia oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC). Zat ini digunakan di berbagai industri, termasuk dalam pembuatan plastik dan resin, serta memiliki sifat pengawet.
Berdasarkan hukum di China, formalin tidak boleh digunakan sebagai bahan pengolahan pangan dan penambahan bahan ini ke dalam makanan dengan cara apapun merupakan tindakan ilegal.
Polisi telah mengambil langkah hukum terhadap orang-orang dan kendaraan yang terlibat, kata otoritas Kangbao, tanpa menjelaskan lebih lanjut langkah yang diambil. Pemeriksaan terhadap produksi, pembelian, dan pengangkutan sayuran juga tengah dilakukan di seluruh wilayah Kangbao, bersamaan dengan upaya melacak sayuran yang terdampak.

