Site icon News Today

Warga Sarawak hadapi kabut asap terparah sejak 2019


Dari seluruh negara bagian Malaysia, Sarawak paling parah terdampak kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Sarawak dan Sabah berbatasan darat dengan Indonesia di Pulau Kalimantan.

Kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak memburuk dalam sepekan terakhir. Serian menjadi distrik pertama yang menetapkan status darurat kabut asap tahun ini pada Jumat (4/9), setelah Indeks Pencemaran Udara (API) menembus 500.

Status darurat di Serian kemudian dicabut pada Senin (7/9) setelah kualitas udara turun di bawah kategori berbahaya. API Serian tercatat 222 pada Senin, setelah sempat mencapai 519 pada Jumat, menurut data Departemen Lingkungan Hidup Malaysia.

Namun, Pemerintah Malaysia memperingatkan kondisi kabut asap belum sepenuhnya pulih. Kualitas udara di sejumlah wilayah, terutama Serian dan Samarahan, masih berada pada kategori sangat tidak sehat.

Dalam skala API Malaysia, angka di atas 400 tergolong “sangat berbahaya”. Angka hingga 50 tergolong baik, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, dan 301-400 berbahaya.

Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) mengatakan kepada CNA bahwa ini merupakan kabut asap “terparah” di Sarawak sejak 2019. Saat itu, API tercatat mencapai 405.

Memburuknya kualitas udara pekan lalu telah mengganggu aktivitas sehari-hari di seluruh Sarawak. Berbagai kegiatan luar ruangan, termasuk karnaval, kegiatan lari komunitas dan olahraga, dibatalkan, sementara jarak pandang yang buruk mengganggu sejumlah penerbangan.

Pemerintah pada Jumat juga mengumumkan penutupan sekolah pada 7-11 September akibat kabut asap. Awalnya, penutupan mencakup 647 sekolah di 12 distrik, termasuk Serian dan ibu kota Sarawak, Kuching.

“Berdasarkan pemantauan sepanjang cuti sekolah pekan ini, keadaan memang tampak tidak banyak berubah,” kata Direktur Pendidikan Sarawak Omar Mahli, seperti dikutip media Malaysia.

Jumlah itu kemudian bertambah menjadi 710 sekolah setelah 63 sekolah di Bintulu dan Tatau/Sebauh turut ditutup. Secara keseluruhan, 617 sekolah dasar dan 93 sekolah menengah dengan 238.303 siswa ditutup pada 7-11 September.



Source link

Exit mobile version