Di luar perselisihan antarnegara kawasan, konsumen Malaysia juga terlibat dalam boikot ekonomi yang lebih luas, seperti kampanye global Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) yang menyasar perusahaan-perusahaan yang dianggap berafiliasi dengan Israel.

Mengomentari kasus Kahf, pengguna Threads eafa_fiza menuturkan,  warga Malaysia perlu menyadari bahwa daya beli mereka dapat memengaruhi keuntungan perusahaan.

“Kita yang menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang harus tutup. Ini menunjukkan betapa kuatnya kita ketika bersatu. Satu boikot diam-diam saja bisa membuat merek global merugi RM292 juta (Rp1,3 triliun) dan menutup 88 gerai. Kekuatan sesungguhnya ada di tangan konsumen,” tulisnya, merujuk pada Starbucks di Malaysia yang menghadapi seruan boikot karena dianggap memiliki hubungan dengan Israel di tengah perang Israel-Hamas.

Menurut laporan Bloomberg, operator Starbucks di Malaysia, Berjaya Food Bhd, mencatat rugi bersih tahunan sebesar RM292 juta (Rp1,3 triliun) pada Juni 2025. Perusahaan menyebut dampak berkepanjangan sentimen konsumen terkait konflik Timur Tengah telah mengganggu kondisi pasar dan mengubah pola belanja masyarakat setempat.

Ekonom Sunway University Yeah Kim Leng mengatakan kepada CNA bahwa meski boikot di media sosial dapat memicu penurunan penjualan jangka pendek dan sentimen nasionalisme, dampaknya jarang merusak reputasi merek secara permanen.

“Pada akhirnya, kegunaan produk akan lebih diutamakan daripada emosi ketika konsumen kembali berpikir rasional. Kecuali ada alternatif yang menawarkan nilai setara atau lebih baik, sentimen konsumen biasanya akan mereda setelah emosi mereda dan kebiasaan berbelanja secara rasional kembali,” tuturnya.

Yeah menambahkan, berbeda dengan perselisihan di media sosial yang cepat berlalu, kampanye seperti gerakan BDS jauh lebih bertahan lama karena mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat dan berakar pada keyakinan ideologis yang lebih kuat.

Menteri Perdagangan Indonesia Budi Santoso dilaporkan menganggap seruan boikot terhadap produk dan merek Indonesia bukan persoalan besar. Menurutnya, seruan tersebut tidak berdampak pada hubungan perdagangan bilateral kedua negara.

“Saya kira tidak (berdampak). Ini, kan, mungkin hanya respons sesaat saja,” kata Budi, seperti dikutip Tempo pada 8 Oktober.



Source link