loading…

Navi Pillay menjadi simbol perlawanan terhadap AS dan Israel. Foto/X/UN

PRETORIA – Komite Nobel Norwegia menganugerahkan Hadiah Nobel Perdamaian 2026 kepada Navanethem “Navi” Pillay.

Pengumuman komite mengenai Hadiah Nobel Perdamaian ke-125, yang disampaikan pada hari Jumat di Oslo, menyatakan bahwa penghargaan tersebut diberikan kepada ahli hukum asal Afrika Selatan itu atas kiprahnya dalam memajukan perdamaian dan hukum internasional.

5 Alasan Navi Pillay Jadi Simbol Perlawanan terhadap AS dan Israel

1. Melawan Para Penjahat Perang

Komite menambahkan bahwa Pillay, mantan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, telah berperan penting dalam memastikan penuntutan terhadap kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida.

“Di tengah tantangan eksistensial—termasuk perang dan konflik yang jumlahnya lebih banyak daripada yang pernah disaksikan dunia dalam waktu yang lama—hukum internasional bukan lagi sekadar pelengkap bagi perdamaian dan keamanan. Hukum internasional merupakan kebutuhan mutlak,” ujar komite tersebut dalam sebuah pernyataan.

Ketua Komite, Jorgen Watne Frydnes, mengatakan bahwa sistem hukum internasional sedang “berada di bawah tekanan hebat” dan lembaga-lembaganya sedang “diserang”. Para hakimlah, lanjutnya, “yang menjaga garis batas tipis antara ketertiban dan kekacauan”. Menanggapi keberhasilannya meraih Nobel, Pillay (85 tahun) mengatakan bahwa ia akan “mendedikasikan penghargaan ini bagi semua penyintas kejahatan internasional”.

Ia menyampaikan pernyataan tersebut di ruang sidang bersejarah di Nuremberg, Jerman, tempat berlangsungnya pengadilan terhadap para pemimpin Nazi setelah Perang Dunia II.

“Mungkin sudah takdirnya saya berada di ruang sidang bersejarah ini… saat pengumuman itu dibuat dan saya diberi tahu mengenai penghargaan tersebut,” ujar Pillay.

2. Membela Palestina, Menuntut Israel Bertanggungjawab atas Genosida di Gaza

Ia juga menyoroti Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, yang dipimpinnya. Komisi tersebut menyimpulkan tahun lalu bahwa Israel bertanggung jawab atas genosida di Gaza dengan niat khusus untuk memusnahkan warga Palestina di Gaza.

“Hal terakhir yang saya lakukan adalah penyampaian laporan mengenai Gaza, yang menyebut peristiwa di sana sebagai genosida,” kata Pillay pada hari Jumat. “Salah satu tanggapan utama terhadap laporan itu adalah apresiasi atas keberanian saya. Dan Anda bisa membayangkan betapa terkejutnya saya. Mengapa seseorang membutuhkan keberanian untuk menyuarakan kebenaran?”

3. Mewarisi Perjuangan Nelson Mandela

Sebagai perempuan Afrika Selatan keturunan Tamil India, Pillay (85 tahun) adalah perempuan pertama yang membuka praktik hukum di wilayah yang saat itu bernama Provinsi Natal pada tahun 1967.

Ia pernah menjadi pengacara pembela bagi Nelson Mandela—penerima Hadiah Nobel Perdamaian sebelumnya—serta aktivis anti-apartheid lainnya, dan merupakan perempuan kulit berwarna pertama yang bertugas di Pengadilan Tinggi Afrika Selatan.



–