JAKARTA: Sebanyak 73,2 persen kasus diabetes di Indonesia diperkirakan belum terdiagnosis, meskipun jumlah penyandang penyakit tersebut telah mencapai sekitar 20,4 juta orang. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam meningkatkan deteksi dini, terutama ketika sebagian masyarakat belum menyadari risiko diabetes karena tidak merasakan gejala.

Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) 2025, Indonesia menempati peringkat kelima dunia dalam jumlah penyandang diabetes pada kelompok usia 20–79 tahun, setelah China, India, Amerika Serikat, dan Pakistan.

Tingginya proporsi kasus yang belum terdeteksi membuat banyak penderita berisiko terlambat memperoleh penanganan hingga penyakit berkembang dan menimbulkan komplikasi.

Persoalan tersebut juga terlihat dalam pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pemerintah, yang menggunakan pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS) sebagai salah satu metode skrining awal.

Dari sekitar 27 juta orang yang telah menjalani pemeriksaan, sebanyak 295 ribu orang terdeteksi memiliki indikasi diabetes.

Namun, hanya sekitar 21 persen pasien yang dilaporkan bersedia mengonsumsi obat secara rutin.

Petugas kesehatan juga menghadapi tantangan ketika sebagian peserta menolak atau sulit menerima hasil pemeriksaan, terutama karena mereka merasa sehat dan belum mengalami gejala fisik.

Kondisi tersebut menjadi salah satu hambatan dalam memastikan masyarakat yang memiliki indikasi diabetes menjalani pemeriksaan lanjutan dan memperoleh penanganan yang diperlukan.

KEMENKES SOROTI KONSUMSI MINUMAN MANIS DI KALANGAN GEN Z

Selain persoalan deteksi dini, perubahan gaya hidup dalam jangka panjang menjadi perhatian dalam upaya menekan risiko diabetes, termasuk pada kelompok usia muda.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Siti Nadia Tarmizi menyoroti meningkatnya popularitas minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) serta kebiasaan menghabiskan waktu di gerai kopi dan minuman di kalangan Generasi Z.

Menurut Nadia, tingkat kemanisan produk minuman lokal cenderung lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara tetangga.

“Gen Z paling senang beli kopi terus duduk berjam-jam asal ada Wi-Fi. Terbukti bahwa di Indonesia minuman manis dalam kemasan jadi tren. Mau ke gerai minuman apa pun, antreannya panjang,” kata Nadia, dikutip detikHealth, Selasa (3/11).

Konsumsi minuman tinggi gula secara berlebihan dapat menjadi salah satu faktor risiko diabetes tipe 2, terutama jika berlangsung terus-menerus dan disertai pola hidup yang kurang sehat.

Ahli gizi Kalbe Nutritionals, dr Laurencia Ardi, MGizi AIFO-K, menjelaskan bahwa perubahan kebiasaan sehari-hari yang terakumulasi selama bertahun-tahun turut berkontribusi terhadap peningkatan kasus penyakit metabolik tersebut.

“Angka kejadian diabetes naik terus dari tahun ke tahun, awalnya karena perubahan gaya hidup secara terus-menerus dalam jangka waktu panjang. Kalau ada 10 orang berkumpul, ada sekitar dua orang yang kena diabetes tapi tidak sadar,” jelas Laurencia.

Nadia juga memperingatkan bahwa diabetes melitus yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan permanen pada berbagai organ vital tubuh.



Source link