KEMENKES PERKUAT DETEKSI DINI DI SEKOLAH

Melihat tingginya angka gangguan kesehatan mental pada remaja, Kemenkes bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenkes meluncurkan buku dan pelatihan First Aider Luka Psikologis untuk membantu remaja mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis pada teman sebaya dan memberikan pertolongan pertama.

Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kemenkes Ida Gunadi Sadikin mengatakan, program tersebut merupakan salah satu respons atas meningkatnya kasus kesehatan mental pada anak dan remaja.

“Dengan adanya program ini, yaitu penerbitan bedah buku pertolongan pertama pada luka psikologis, tentunya ini adalah salah satu cara dari Kemenkes dan kami dari IDWP Kemenkes untuk menyikapi adanya peningkatan statistik anak-anak yang menderita kesehatan mental,” kata Ida.

“Ini langkah nyata dari kami untuk ikut memerangi masalah kesehatan mental. Jadi, di Kemenkes bukan saja kesehatan fisik yang kita coba kurangi bebannya, tetapi kesehatan mental juga menjadi perhatian agar angka penderitanya tidak terus meningkat,” lanjutnya.

Menurut Ida, program First Aider dinilai penting karena remaja umumnya lebih terbuka kepada teman sebaya dibandingkan kepada orang tua.

“Kalau pengalaman saya pribadi, anak saya lebih senang cerita dengan teman daripada cerita dengan orangtua. Karena itu, saya rasa dengan adanya First Aider, permasalahan kesehatan mental pada remaja bisa ditanggulangi lebih cepat,” katanya.

Ia berharap teman sebaya dapat mengenali gejala awal gangguan kesehatan mental sehingga seseorang bisa memperoleh bantuan sebelum kondisinya semakin memburuk.

“Harapannya kesehatan mentalnya bisa lebih cepat diperbaiki sebelum terjadi lebih parah lagi ke depannya,” imbuh Ida.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengatakan, gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja masih sering luput dari perhatian karena banyak orang menganggap masalah tersebut hanya dialami orang dewasa.

“Sering kali dikira anak-anak itu belum saatnya atau jarang mengalami gangguan mental. Tetapi ternyata tidak seperti itu. Kadang-kadang gangguan mental pada anak tidak mudah dideteksi sehingga perlu kepekaan dari orang tuanya,” ujar Piprim dilansir IDN Times. 

Menurut dia, pola asuh yang kurang tepat menjadi salah satu faktor yang dapat memicu gangguan kesehatan mental pada anak. Tekanan berlebihan dari orangtua, terutama terkait tuntutan prestasi akademik yang tidak sesuai kemampuan anak, dapat berdampak buruk terhadap kondisi psikologis mereka.

“Anaknya baru satu hari masuk sekolah, kemudian ibu mengatakan kecewa karena sepertinya tidak mungkin jadi juara kelas. Ini gambaran bagaimana tekanan dari orangtua sendiri bisa memengaruhi anak,” lanjutnya.



Source link