JAKARTA: Dugaan bunuh diri yang menimpa seorang dokter magang (internship) di Jakarta menambah daftar kematian tenaga medis muda dalam beberapa bulan terakhir. Kementerian Kesehatan merespons dengan memerintahkan skrining kesehatan jiwa ulang bagi peserta program internship dan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Dokter magang berinisial SZM atau Siti Zahra Maghfira (25) ditemukan meninggal dunia di Apartemen Kalibata City, Pancoran, Jakarta Selatan, pada Minggu (26/7). Polisi menduga korban meninggal setelah terjatuh dari lantai 18 apartemen.

Korban diketahui merupakan putri Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Sulawesi Barat, dr. Musadri Amir Abdullah. Siti Zahra merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) yang lulus pada semester awal tahun akademik 2022/2023.

Kapolsek Pancoran Kompol Mansur mengatakan, polisi menduga korban melompat dari jendela unit apartemen di Tower Sakura lantai 18. Hingga kini, penyidik masih mendalami penyebab pasti kejadian tersebut.

Peristiwa itu pertama kali diketahui petugas keamanan setelah mendengar suara benturan keras dari luar gedung.

“Dari sekuriti itu dengar ada semacam benda jatuh. Suaranya ketahuan, kan, dari ketinggian 18 mungkin ininya (bunyinya) keras sekali, kan. Ditengoklah ke samping, ternyata betul ada salah seorang yang geletak (korban jatuh),” kata Mansur, dikutip dari Kompas.com.

Saat kejadian, SZM tinggal bersama ibunya di apartemen tersebut. Namun, pagi itu korban berada seorang diri karena sang ibu sedang pergi ke pusat perbelanjaan di kawasan Kalibata City.

Dalam penyelidikan awal, polisi menerima keterangan dari ibu korban bahwa keduanya beberapa kali merasakan ketakutan selama tinggal di apartemen tersebut.

Hari itu, sang ibu sempat mengajak SZM pergi ke mal, tetapi korban memilih tetap berada di apartemen.

“Kalau penyebab saat ini sedang dalam lidik, namun kami dapat informasi menurut keterangan sekitar sana bahwa mereka suka ada rasa ketakutan,” jelas Mansur.

Polisi juga menyatakan belum menemukan unsur pidana dalam peristiwa tersebut.

MENKES MINTA SKRINING KESEHATAN JIWA DIULANG

Menanggapi kejadian tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta seluruh peserta program internship maupun PPDS kembali menjalani skrining kesehatan jiwa.

Menurut BGS, langkah tersebut diperlukan agar peserta yang memiliki risiko gangguan kesehatan mental dapat terdeteksi lebih dini dan segera memperoleh penanganan.

“Tapi yang jelas, saya sudah minta semua diskrining jiwa sekali lagi, supaya internship, PPDS dengan indikasi bunuh diri ini seharusnya, kan, bisa ditangani,” kata Menkes.

“Jadi, kalau ada indikasi-indikasi, kita bisa ambil tindakan. Ini cara yang paling cepat yang bisa kami lakukan. Terus terang kami sedih sekali,” lanjutnya.

Ia berharap skrining ulang tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat sistem pendampingan kesehatan mental bagi dokter muda.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Ari Fahrial Syam mendesak Kementerian Kesehatan segera mengambil langkah konkret menyusul meningkatnya kasus kematian peserta program internship dokter.

Menurut Ari, rangkaian kematian dokter muda dalam beberapa bulan terakhir merupakan alarm serius yang tidak lagi dapat dipandang sebagai insiden yang berdiri sendiri.

Dalam keterangannya, Ari menyoroti meninggalnya dua dokter internship dalam beberapa hari terakhir, yakni dr. M. Zulfikar Drakel yang ditemukan meninggal di tempat kosnya di Lampung pada 21 Juli 2026 dan dr. Siti Zahra Maghfira.

Ia juga mengingatkan bahwa sebelumnya empat dokter muda lainnya telah meninggal dunia, yakni dr. Kartika Ayu Permatasari di Rembang pada Februari 2026, dr. Edgar Bezaliel Hartanto di Denpasar pada Maret 2026, dr. Andito Mohammad Wibisono di Cianjur pada Maret 2026, serta dr. Myta Aprilia Azmy di Kuala Tungkal, Jambi, pada Mei 2026.

Menurut Ari, enam kematian dokter muda dalam lima bulan pada satu program pemerintah merupakan kegagalan sistem yang harus mendapat perhatian serius.

“Enam nyawa dokter muda dalam lima bulan pada satu program pemerintah bukan angka statistik. Ini adalah alarm yang tidak boleh dianggap sebagai insiden terpisah. Ini adalah kegagalan sistem yang menuntut jawaban jujur atas satu pertanyaan mendasar: siapa yang bertanggung jawab?” kata Ari dalam keterangan tertulis, dikutip Bloomberg Technoz.



Source link