Beruntung, Bandung sudah memiliki modal yang tidak kalah berharga, yaitu banyak pengrajin kulit berbakat, bengkel alas kaki yang mapan, serta pengalaman membuat sepatu selama lebih dari satu abad.
Alih-alih hanya mengagumi boots asal Amerika dari kejauhan, generasi baru para pengrajin mulai mempelajarinya secara mendalam.
Beberapa bahkan membeli boots impor, membongkarnya satu per satu, lalu mempelajari setiap jahitan, pola, hingga teknik konstruksinya.
Mereka tak hanya memahami tampilannya, tetapi juga menguasai teknik tradisional yang digunakan untuk membuatnya.
Awalnya terinspirasi dari boots Amerika, para pengrajin boots di Bandung perlahan mengembangkan produk mereka menjadi sesuatu yang khas Indonesia.
Kini, para pembuat boots ternama di Bandung telah memiliki identitas desain sendiri dengan memadukan inspirasi dari alas kaki militer, workwear, dan outdoor boots bersama sentuhan craftsmanship Indonesia serta tingkat kustomisasi yang luas.
Nama-nama seperti Sagara Bootmaker, Briselblack, Onderhoud Handmade, dan Txture kini tidak lagi dipandang sebagai alternatif dari pembuat boots Amerika, melainkan telah menjadi brand yang dihormati berkat kualitasnya sendiri. Sepasang boots handmade asal Bandung dibanderol mulai dari US$349 (Rp6,3 juta).
Kota yang dulu menjadikan work boots asal Amerika sebagai sumber inspirasi kini justru menerima pesanan dari para pencinta boots di negara yang menginspirasinya.

Leave a Reply