PELUANG DI TENGAH KETIDAKPASTIAN

Sementara para pemimpin dunia membahas nilai strategis Greenland, banyak orang yang menjaga roda perekonomiannya tetap berjalan justru berfokus pada persoalan yang jauh lebih sederhana: tetap aman, mengirim uang ke kampung halaman, dan merencanakan masa depan anak-anak mereka.

Greenland masih membutuhkan pekerja, dan bisnis-bisnis lokal terus mencari tenaga kerja dari Asia Tenggara untuk mengisi kekurangan pekerja yang berkepanjangan.

Saat ini, sekitar 1.300 warga Filipina dan 460 warga Thailand tinggal di Greenland, menjadikan mereka komunitas asing terbesar di wilayah tersebut. Populasi warga Filipina meningkat hampir lima kali lipat hanya dalam lima tahun, sementara komunitas Thailand bertambah sekitar dua kali lipat.

Migrasi terlihat di mana-mana di Nuuk, mulai dari hotel, tempat pijat, restoran hingga pabrik pengolahan makanan laut. Pergerakan pekerja ini bahkan menjangkau lebih jauh lagi, hingga permukiman-permukiman terpencil Greenland jauh di atas Lingkar Arktik.

Masa depan pulau yang tidak pasti kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Greenland berupaya mendiversifikasi ekonominya agar tidak hanya bergantung pada sektor perikanan, dengan memperluas sektor pariwisata, pertambangan, energi, dan jasa.

Pertumbuhan tersebut semakin menekan pasar tenaga kerja yang sudah kekurangan pekerja, menurut Christian Kjeldsen, CEO Greenland Business Association, organisasi pengusaha sektor swasta dan perdagangan terbesar di wilayah itu.

Menurutnya, peluang memang masih tersedia. Namun, ketidakpastian politik telah menghambat sebagian investasi, yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap jalur migrasi secara lebih luas.

“Risikonya, jelas, kami tidak tahu apa yang akan terjadi. Kami tidak tahu bagaimana semua ini akan berakhir,” katanya.



Source link