SURABAYA: Kelalaian manusia diduga menjadi pemicu kebakaran yang melanda kawasan Gunung Bromo di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Hingga Senin (10/8), kebakaran telah menghanguskan sekitar 742 hektare kawasan dan memaksa pengelola menutup seluruh akses wisata menuju Gunung Bromo.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan dugaan awal mengarah pada faktor manusia. Namun, pemerintah belum dapat memastikan penyebab kebakaran karena upaya saat ini masih diprioritaskan untuk memadamkan api.
“Sampai saat ini persisnya itu kami memang masih melakukan fokus kita masih pada pemadaman. Tetapi kita tidak memungkiri bahwa memang ada kemungkinan faktor kelalaian dan faktor manusia di dalamnya yang menjadi awal dari munculnya api tersebut. Namun demikian sekali lagi fokus kita saat ini adalah pada pemadaman,” ungkap Emil diliput CNN Indonesia TV, Senin (10/8) malam.
Sementara itu, Badan Geologi menegaskan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Bromo.
Kebakaran bermula sejak 3 Agustus lalu sekitar pukul 17.00 WIB. Upaya pemadaman kemudian terpusat di kawasan Puncak P-30 yang disebut sebagai titik awal kebakaran.
Area terdampak di kawasan tersebut sempat mencapai sekitar 520 hektare. Emil menyebut titik kebakaran di Puncak P-30 kini telah berhasil dipadamkan.
“Puncak P-30 sudah dapat dikatakan padam per hari ini,” tuturnya.
TITIK API BARU MUNCUL
Meski api di Puncak P-30 telah dipadamkan, titik kebakaran kemudian muncul di kawasan Penanjakan, tepatnya Lembah Dingklik.
Pemerintah belum dapat memastikan apakah titik tersebut berasal dari kebakaran yang berbeda akibat aktivitas manusia atau merupakan penyebaran api dari lokasi sebelumnya akibat material yang terbawa angin.
“Kita tidak bisa memastikan apakah memang berasal dari insiden lain yang melibatkan tindakan manusia atau dengan adanya angin bisa membawa apakah itu daun, apakah itu material tertentu yang bisa kemudian ikut terbawa angin dan ternyata bisa menyebarkan api ke titik yang tidak berlokasi langsung bersebelahan gitu tapi terbawa oleh angin,” jelas Emil.
Menurutnya, banyak faktor dapat memicu maupun memperluas kebakaran saat musim kemarau sehingga kesiagaan perlu terus ditingkatkan.
“Terlalu besar dan terlalu beragam variabel yang bisa memicu di saat musim kemarau seperti ini,” tambahnya.
Seiring meluasnya kebakaran, TNBTS menutup sementara seluruh akses wisata menuju kawasan Gunung Bromo sejak Sabtu (8/8).
Penutupan berlaku di seluruh pintu masuk, yakni Cemorolawang di Kabupaten Probolinggo, Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang, serta Senduro di Kabupaten Lumajang.
Wisatawan yang telah membeli tiket secara daring untuk periode penutupan diberikan pilihan menjadwalkan ulang kunjungan atau mengajukan pengembalian dana.
Proses penjadwalan ulang maupun pengembalian dana dapat dilakukan dengan melengkapi formulir melalui aplikasi pemesanan daring TNBTS.

Leave a Reply