Kushwaha, misalnya, mengatakan, program studi ilmu politik yang dijalaninya masih banyak mempersiapkan mahasiswa untuk mengikuti berbagai ujian yang sangat kompetitif di India. Namun, untuk memperluas pilihan karier, setiap dua hari sekali ia meluangkan satu hingga dua jam untuk mempelajari prompt engineering, AI generatif dan perangkat AI lainnya di luar perkuliahan.

Ia yakin keterampilan tersebut akan berguna untuk pekerjaan di bidang kebijakan, riset, dan lembaga kajian yang ingin ditekuninya setelah lulus.

“Saya tidak boleh ketinggalan gerbong AI ini,” katanya. Alih-alih menunggu kurikulum mengejar ketertinggalan, ia mempelajari keterampilan itu sendiri karena menilai sistem pendidikan tidak cukup cepat beradaptasi.

“Orang yang benar-benar mampu menanggung kegagalan hanyalah mereka yang sejak awal sudah punya modal dari keluarga,” kata Taneja. “Bagi mereka yang tidak memiliki privilese ekonomi seperti itu, tidak ada rasa aman dan kepastian. Itulah sebabnya mahasiswa dilanda kecemasan.”

MENJEMBATANI KESENJANGAN ANTARA KAMPUS DAN DUNIA KERJA

Kekhawatiran mahasiswa bukan sekadar tentang apa yang mereka pelajari, tetapi apakah yang dipelajari saat ini masih akan relevan ketika mereka lulus.

Seiring AI dengan cepat mengubah pekerjaan tingkat pemula dan peluang kerja, perusahaan semakin mencari keterampilan praktis selain kualifikasi akademis, kata para pakar kepada CNA.

“Ekspektasinya telah bergeser dari ‘Apa yang diketahui kandidat?’ menjadi ‘Apa yang bisa dilakukan kandidat dengan pengetahuan yang mereka miliki?’” kata Kishore Selva Babu, Direktur Dewan Mahasiswa Christ University di Bengaluru.

Selain pengetahuan teknis, perekrut semakin mengharapkan lulusan memiliki kemampuan praktis, keterampilan komunikasi, kemampuan beradaptasi dan penguasaan perangkat AI, kata Babu.

Menurutnya, mahasiswa yang pernah magang, mengerjakan proyek industri atau dapat menunjukkan penerapan ilmu dari perkuliahan di lingkungan profesional sering kali lebih diminati dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan prestasi akademis.

Ia menambahkan, universitas di India berupaya merespons dengan studi kasus nyata, debat, proyek industri serta lebih banyak mengenalkan AI dan perangkat digital. Namun, ia mengakui perubahan kurikulum secara alami berjalan lebih lambat daripada perkembangan industri.

Kamal Karanth, pendiri bersama perusahaan perekrutan Xpheno, mengatakan, masalahnya lebih dalam daripada sekadar memperbarui kurikulum universitas.

“Tantangan program akademis sering kali terletak pada jeda antara permintaan pasar dan lulusan yang dihasilkan dunia pendidikan,” katanya.

Ketika universitas akhirnya membuka program dan sertifikasi khusus untuk memenuhi kebutuhan pasar, AI dan otomatisasi sudah lebih dulu mengubah banyak bagian industri sehingga mengurangi kebutuhan terhadap berbagai pekerjaan tingkat pemula, kata Karanth.



Source link