Emisi tersebut 273 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata musiman, meski masih lebih rendah dari 21,7 juta ton yang dilepaskan pada pekan yang sama pada 2015, ketika Indonesia menghadapi kondisi El NiƱo yang juga sangat intens.
Salah satu wilayah yang paling parah terdampak adalah Kota Pontianak di Kalimantan Barat, dengan indeks kualitas udara mencapai 394 pada Rabu, menurut perusahaan pemantau kualitas udara Swiss, IQAir. Angka 300 dikategorikan berbahaya.
Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan kepada Reuters dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya memandang “dengan prihatin” angka kualitas udara berbahaya di Kalimantan dan wilayah lainnya.
Kemen LH juga memantau data Copernicus, tetapi data tersebut “tidak secara langsung mencerminkan kondisi kualitas udara di suatu wilayah tertentu”. Faktor-faktor lain juga perlu diperhitungkan.
“DI BAWAH BATAS DETEKSI”
Dari Januari hingga Juli tahun ini, karhutla menghanguskan sekitar 202.000 ha lahan di Indonesia, sekitar sepertiga dari luas lahan yang terbakar pada periode yang sama pada 2015, kata Nisa Novita, peneliti lahan gambut dan iklim dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), kelompok lingkungan yang membantu masyarakat menangani karhutla.
“Namun, data Agustus diperkirakan menunjukkan peningkatan signifikan hingga sekitar 600.000 ha, terutama di Kalimantan, Sumatra, dan Papua Selatan,” katanya.
Sepanjang 2015, Indonesia kehilangan total 2,6 juta hektar lahan akibat kebakaran.
Berdasarkan platform pemantauan SiPongi milik Kementerian Kehutanan, jumlah titik panas yang tercatat pada 1 Agustus hingga 8 September mencapai 13.443, dibandingkan dengan 9.454 pada periode yang sama pada 2015.
Data SiPongi menunjukkan, rekor bulanan jumlah titik panas tercatat pada Oktober 2015.
Fire Emissions Watch menggunakan pengamatan satelit untuk memperkirakan konsentrasi materi partikulat, senyawa organik volatil, gas rumah kaca, dan polutan lain yang dihasilkan kebakaran. Namun, Parrington mengatakan, data tersebut justru mungkin meremehkan skala masalah yang sebenarnya.
“Salah satu persoalan dengan kebakaran gambut adalah jika kebakaran terjadi pada suhu rendah atau di bawah tanah, kebakaran itu akan berada di bawah batas deteksi sensor, yang berarti kami sebenarnya tidak dapat melihatnya,” katanya.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa karhutla di Indonesia pada 2015 menghasilkan emisi harian yang lebih besar daripada seluruh Uni Eropa dan menyebabkan lebih dari 100.000 kematian dini di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
“Kita harus ingat bahwa ini masih awal musim, dan kami memperkirakan kebakaran akan terus berlangsung dan emisi terus meningkat, kemungkinan hingga akhir Oktober, seperti yang terjadi pada 2015,” tutur Parrington.
“Dalam dua bulan, kita akan tahu seberapa ekstrem kondisi tahun ini. Namun, indikasi awal menunjukkan bahwa lajunya setara, jika tidak sedikit lebih tinggi, dibandingkan tahun-tahun El Nino sebelumnya.”

Leave a Reply