PANDEGLANG: Sebanyak 130 nelayan di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, ikut membantu pencarian lima jurnalis foto dan tiga kru speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Para nelayan diminta mengawasi perairan selama melaut dan segera melapor jika melihat speedboat maupun benda mencurigakan.

Lima jurnalis yang masih dalam pencarian adalah pewarta foto Antara Muhammad Bagus Khoirunas, Arie Basuki dari merdeka.com, Donal Husni yang merupakan fotografer lepas, Yudhistira dari iNews, serta Daus dari Anadolu.

Kepala Desa Tejang, Pulau Sebesi, Syamsiar mengatakan pihak desa mengerahkan jaringan kelompok nelayan setelah mendapat informasi mengenai hilangnya rombongan yang sebelumnya melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

“Kami sudah share ke grup-grup kelompok nelayan dan juga menginformasikan kepada ketua RT serta kepala dusun. Kalau saat melaut melihat keberadaan speedboat tersebut atau menemukan sesuatu yang mencurigakan, diminta segera melapor,” kata Syamsiar, dikutip detikSumbagsel, Kamis (10/9).

Desa Tejang memiliki 13 kelompok nelayan dengan total sekitar 130 anggota. Mereka diminta membantu pemantauan di sela aktivitas mencari ikan.

Pihak desa juga sempat menerima informasi dari Bhabinkamtibmas mengenai titik koordinat sinyal telepon seluler yang disebut terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi.

Menurut Syamsiar, lokasi tersebut berada sekitar 200 meter dari bibir pantai dan tidak jauh dari dermaga. Aparat desa kemudian mendatangi titik yang diinformasikan tersebut, tetapi tidak menemukan rombongan maupun speedboat.

“Memang kemarin kami diinformasikan oleh Bhabinkamtibmas karena terakhir titik koordinat itu ada di Pulau Sebesi. Setelah kami cek sesuai titik koordinat yang dikirim, hasilnya masih nihil,” jelasnya.

ASAP VULKANIK HAMBAT PENCARIAN DARI UDARA

Upaya pencarian menghadapi kendala cuaca dan kondisi perairan. Syamsiar mengatakan gelombang menuju kawasan Gunung Anak Krakatau cukup besar dan disertai angin kencang.

“Kalau arah menuju Krakatau memang cuacanya lagi tidak bagus. Ombaknya agak besar dan anginnya juga cukup kencang. Nelayan sekarang mencari ikan dengan mengambil arah lain,” katanya.

Pulau Sebesi merupakan salah satu pulau yang berada dekat kawasan Gunung Anak Krakatau. Perjalanan dari Desa Tejang menuju Krakatau menggunakan kapal nelayan membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam.

Selain kondisi laut, Basarnas menghadapi kendala jarak pandang akibat asap vulkanik.

Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syafii mengatakan kondisi tersebut membatasi operasi pencarian menggunakan sarana udara.

“Hari ini saya hadir di sini, tadi juga kita dengan sarana udara, kita juga sempat masuk di perairan. Tapi memang kondisi bahwa yang terjadi saat ini jarak pandang memang terbatas,” ujar Syafii di Pos SAR Nasional, Pantai Marina Carita, Pandeglang.

Menurut Syafii, asap vulkanik masih terpantau pada ketinggian 1.500 meter ke bawah sehingga pencarian melalui udara belum dapat dilakukan.

Penggunaan drone juga menghadapi kendala serupa. Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan tim dari KN SAR Tetuka mencoba melakukan pencarian menggunakan drone di sekitar Pulau Sangiang, tetapi jarak pandang tertutup asap tebal.

“Untuk hari ini, informasi dari rekan-rekan di lapangan yang di sekitar yang menggunakan drone, yaitu KN SAR Tetuka, mencoba hal tersebut dan hasilnya tidak bisa karena kabut asap sangat tebal,” ucap Al Amrad.

Basarnas terus memantau informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk menentukan langkah pencarian dengan mempertimbangkan keselamatan tim.



Source link