loading…

Dana Moneter Internasional (IMF) melontarkan peringatan horor bahwa, eropa dan negara-negara Barat kini berada dalam posisi paling rentan dalam sejarah modern. Foto/Dok

JAKARTA – Eropa dan negara-negara Barat kini berada dalam posisi paling rentan dalam sejarah modern. Dalam laporan World Economic Outlook terbaru yang dirilis pada Pertemuan Tahunan di Bangkok, Dana Moneter Internasional ( IMF ) melontarkan peringatan horor bahwa ekonomi Eropa terancam sanksi dan lonjakan harga susulan akibat stok gas anjlok ke rekor terendah dalam 15 tahun terakhir.

Kondisi diperparah oleh menipisnya cadangan minyak darurat global dan menggunungnya utang publik negara-negara Barat, yang kini mempersempit ruang gerak pemerintah untuk memberikan subsidi BBM maupun bantuan finansial bagi warganya.

IMF membeberkan bahwa produk minyak bumi olahan, khususnya bahan bakar diesel dan bensin saat ini harganya 70% hingga 95% lebih mahal dibandingkan sebelum Perang Iran meletus. Dengan laju pengurasan minyak dunia yang mencapai 2,7 juta barel per hari, ekonomi Eropa menghadapi ancaman kelumpuhan jelang datangnya musim dingin.

Rangkaian faktor krisis yang menghantam pasokan energi Eropa antara lain serangan Iran ke kompleks Ras Laffan di Qatar pada bulan Maret lalu merusak fasilitas ekspor vital LNG dunia.Baca Juga: Ledakan Utang Rp6.200 Triliun dan Krisis Mengancam Negara Berkembang

Faktor lain yakni penutupan Selat Hormuz serta pertempuran sengit Arab Saudi lawan Houthi di Selat Bab el-Mandeb mengunci rute utama kapal tanker menuju Eropa. Ditambah serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia di Laut Hitam kian memperketat pasokan produk olahan global.

Baca Juga: Serangan di Riyadh dan Selat Hormuz Bikin Harga Minyak Bertahan di Atas USD100 per Barel

“Cadangan di pasar energi terus menyusut. Guncangan geopolitik tambahan akan langsung mentransmisikan lonjakan harga dan gangguan pasokan secara kilat,” tegas laporan resmi IMF.

Keputusan Uni Eropa (UE) untuk memutus total ketergantungan pada bahan bakar fosil Rusia pada tahun 2027 kini berbalik menjadi bumerang mematikan. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menyindir kebijakan Eropa tersebut sebagai tindakan “harakiri” yang dilakukan sendiri (self-made crisis), sembari menegaskan bahwa eksportir Rusia kini telah beralih ke pembeli yang lebih stabil di Asia.



–